Jangan Takut Dibenci

Opini
Jangan takut dibenci - Filosofi Remaja

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja melihat video commencement speech dari Adrian Tan (klikdi sini untuk membaca keseluruhan speechnya),

Don’t work. Be hated. Love someone. – Adrian Tan
Meskipun memang terdapat beberapa saran yang kontradiktif (seperti misalnya saran be hated dan dont speak the truth dalam waktu bersamaan-tapi saya tidak akan bahas itu di sini), namun saya merasa terdapat saran yang penting terkait dengan kehidupan yang bagi saya pribadi cukup bermakna, yaitu terkait dengan kebencian orang.

Be hated, begitulah kata Adrian Tan saat ia menyampaikan commencement speech-nya. Sebuah saran yang menurut saya cukup kontroversial, karena siapa sih orang yang mau dibenci?

Kalau kata Derek Muller, pendiri channel Youtube Veritasium, hate is a strong word (klik di sini untuk melihat video opini Veritasium terkait dengan konsep "Be Hated"). Ya, benci tentu merupakan hal yang mungkin kata banyak orang sudah sepatutnya dianggap negatif.

Akan tetapi, hal yang menarik adalah bahwa justru ketika kita melihat banyak figur-figur hebat yang membuat perubahan yang substansial, ternyata sangat jarang sekali ada figur yang tidak pernah dibenci oleh orang lain.

Hampir semua figur-figur yang membuat perubahan besar di dunia ini mereka pernah dibenci oleh orang lain saat mencoba melakukan aksi untuk membuat perubahan tersebut.

Mulai dari Einstein, Sigmund Freud, Steve Jobs, Elon Musk, bahkan Nabi Muhammad sekali pun pernah dibenci oleh orang lain. Einstein? Gurunya sendiri membencinya ketika ia bersekolah. Saat sudah menemukan teori relativitas pun ia sempat dihujat secara umum oleh beberapa ilmuwan terkenal pengikut Newton pada masanya. Sigmund Freud? Bahkan sampai sekarang teorinya masih kontroversial, dan banyak sekali haters dari Sigmund Freud sejak ia praktik di tempatnya. Nabi Muhammad pun sedibenci itu sampai diludahi dan dilempari batu oleh warga saat sedang melewati jalanan.

Einstein dan Sekolah - Filosofi Remaja

Dari sini, bisa kita lihat bahwa seseorang tidak perlu menjadi jahat untuk dibenci oleh orang lain. Malahan, justru orang yang dibenci adalah orang yang sebetulnya mempertahankan idealisme dan juga prinsip pribadinya di tengah-tengah masyarakat yang konformis (ngikut-ngikut bae) ini.

Ya, orang yang dibenci adalah orang yang berani menjadi berbeda di tengah masyarakat yang kebanyakan punya pemikiran yang sama, memang tidak selalu orang baik yang dibenci oleh orang-orang, orang jahat juga seringkali dibenci oleh orang-orang. Maka dari itu, menurut saya dari sini kita bisa sepakat bahwa orang yang dibenci adalah orang yang punya pengaruh.

Ada orang bijak juga yang pernah mengatakan bahwa untuk membahagiakan semua orang adalah hal yang mudah. Cukup dengan jangan pernah terlibat di dalam argumen, dan selalu menuruti apa kata orang. Selesai, anda akan disenangi oleh banyak orang di sekitar anda. Namun apakah itu adalah hal yang baik? Bisa jadi. Bisa jadi menurut anda menjadi baik di mata orang lain merupakan hal yang baik.

Akan tetapi, jika anda ingin berusaha membuat perubahan dan mewujudkan dampak besar, maka bermain aman dengan cara membahagiakan semua orang menurut saya bukanlah hal yang tepat.

Mau tidak mau, ketika kita ingin menciptakan perubahan yang besar, pasti akan ada saja orang yang berbeda pendapat, tersinggung, atau orang-orang yang entah kenapa akhirnya tiba-tiba benci kita karena sesuatu hal yang kita lakukan.

Menurut saya menjadi orang yang dibenci adalah sebuah keniscayaan bagi pemimpin yang berusaha membuat perubahan yang substansial

Steve Jobs sendiri pernah mengatakan bahwa sebetulnya sebagai pemimpin, akan sangat sulit jika kita ingin membahagiakan seluruh bawahan ataupun masyarakat yang kita pimpin.

Dalam quotes-nya yang terkenal, Ia menyebutkannya seperti ini:

Kutipan dari Steve Jobs - Filosofi Remaja
Kutipan dari Steve Jobs - Filosofi Remaja
Lebih jauh dari itu, sebetulnya dibenci oleh orang lain merupakan cara kita juga untuk dapat mengubah paradigma orang lain, manusia lain, kelompok lain, agar dapat mengubah kognisinya menjadi sesuai dengan apa yang kita percayai.

Mungkin banyak yang mengatakan bahwa menulis postingan di internet, di sosmed, atau di blog seperti saya sekarang ini tidak akan terlalu berpengaruh bagi pemikiran orang lain. Bahkan ada pribahasanya sendiri, bahwa ‘haters’ will be ‘haters’, dan ‘lovers’ will be ‘lovers’.

Namun bayangkan jika anda, setelah menulis, dapat mengubah paradigma orang yang membaca tulisan anda menjadi lebih baik. Setidaknya membuat ia (meskipun tidak setuju dengan anda) dapat mengerti dengan argumen yang anda ingin sampaikan. 

Akan menjadi kebahagiaan lebih juga bagi anda apabila setelah orang membaca tulisan anda, bukan hanya aspek kognitif yang berubah (bukan hanya "ngeh"/sadar), namun juga afektif (secara emosi) dan juga perilakunya berubah. Sebegitu kerennya sebuah tulisan jika dapat mengubah perilaku orang.

Nah, hal inilah yang selama ini dilakukan oleh Filosofi Remaja. Tidak jarang juga ada beberapa dari artikel yang saya tulis yang mendapat kecaman, kritikan, bahkan ancaman.

Saya tidak pernah takut. Justru ketika tulisan saya membuat saya mendapat ancaman, maka berarti saya sudah cukup populer untuk merambah populasi orang yang berbeda pikiran dengan saya.

Dan hal inilah yang mesti dilakukan. Untuk itulah menurut saya seharusnya orang-orang menulis. Untuk menjangkau orang-orang yang pemikirannya masih netral atau kontradiktif dengan saya agar saya dapat mengubah paradigma mereka menjadi lebih baik.

Sesimpel itu. Oleh karena itu, untuk anda di luar sana yang ingin membuat perubahan, jangan takut dibenci. 

Udah itu aja. Sikat!

Salam hangat,
Ifandi Khainur Rahim

Filosofi Remaja, Mengubah Paradigma Remaja Indonesia Menjadi Lebih Baik.

Anggapan yang Salah Tentang Kesuksesan

Opini

Suatu hari di bulan Februari di tahun 2018, saya sempat membuat catatan singkat di kepala saya tentang kesuksesan dan kegagalan. Ya, sebuah catatan tentang bagaimana saya bisa ada di titik di mana saya hidup sekarang ini. Catatan itu berawal dari pertanyaan buanyak orang yang membaca blog saya dan akhirnya memutuskan untuk mengontak saya langsung. Pertanyaan apakah itu? Berikut adalah pertanyaan yang mungkin bisa saya rangkum:

Kak, gimana sih caranya biar jago nulis, berpikir kritis, jadi leader, dsb? Aku dari dulu selalu coba tapi gak pernah bisa jadi hebat
Lalu saya pun berpikir, apakah saya bisa dibilang ‘hebat’? Setelah dipikir-pikir, ternyata tidak. Achievement dan kemampuan saya masih sangat minim dari hal-hal yang banyak orang tersebut tanyakan. Dan karena saya tidak beranggapan bahwa saya hebat, saya selalu menjawab pertanyaan seperti itu dengan balasan terima kasih saja, dan tidak membalas lagi reply orang yang bertanya tentang hal tersebut.

Bahkan bisa dibilang sejak awal tahun 2018 ini, saya sangat sering sekali hanya nge-read doang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman pembaca Filosofi Remaja. Kesibukan akademis, kehidupan anak kontrakan yang harus masak, nyuci, bersih-bersih sendiri, sekaligus dengan pegangan jabatan sebagai Ketua BEM F. Psi. UI membuat saya jarang sekali aktif menjawab pertanyaan selain urusan organisasi ataupun akademis, tidak terkecuali pada akhirnya blog Filosofi Remaja jadi terbengkalai. Oleh karena itu, di artikel ini pun saya ingin meminta maaf jika ada teman-teman yang merasa tersinggung/tidak enak karena saya cuman read doang.

Progress Filosofi Remaja

Saya pun sudah lama sekali tidak sempat menulis di Filosofi Remaja. Saya bersyukur sekali followersnya entah kenapa selalu bertambah. Yah, minimal seminggu satu followers bertambah di Facebook. Ini artinya blog saya meskipun didiamkan pun tetap berprogress. Sayangnya, progressnya semakin hari semakin menurun (too bad!). Inilah yang membuat saya tidak boleh tinggal diam. Ya, saya harus menulis lagi!

Oke, lanjut ke cerita awal. Lalu bagaimana jawaban dari pertanyaan yang buanyak orang tanyakan tersebut? Saya memutuskan untuk menjawab di artikel yang saya tulis sekarang.

Ya, jadi gimana sih caranya biar bisa jago nulis? Gimana caranya supaya bisa bikin blog dengan banyak tulisan? Gimana sih caranya jadi Ketua BEM Fakultas? Gimana sih caranya bikin banyak tulisan yang viral di medsos? Gimana sih cara menang kompetisi nulis? dsb.

Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebetulnya bisa dirangkum menjadi: 

Bagaimana cara agar kita bisa sukses/hebat dalam sesuatu hal?
Caranya? Jujur, menurut saya pribadi, tidak ada cara spesifik untuk menjadi sukses/hebat dalam suatu hal. Jika pun ada, tentu orang-orang akan menggunakan cara tersebut untuk menjadi hebat dan semua orang akan menjadi hebat, bukan? Kalau kata Casey Neistat, ‘there’s no define pathway to success’. Dan saya percaya, perkataannya terkait cara sukses tersebut sangatlah tepat.

Tidak ada jalan yang baku menuju sukses, Casey Neistat - Filosofi Remaja


Tentu kita tidak bisa merencanakan semudah itu untuk jadi hebat. Ya, susah untuk mencari rumus spesifiknya. Tidak ada yang namanya rumus saklek untuk sukses di dunia ini.

Eits, tapi bentar dulu. Untuk apa saya buat tulisan ini kalau saya tidak punya solusi atas pertanyaan yang diajukan barusan?

Begini, saya punya solusinya. Jadi, menurut saya kalau saja ada hal yang boleh saya sarankan untuk menjadi sukses atau hebat dalam suatu hal, saran tersebut hanyalah satu. Bahwa: Menjadi hebat itu perlu habit dan kondisi lingkungan.

Kita tidak akan pernah bisa melihat narasi/cerita orang lain yang hebat lalu mengeneralisasi begitu saja cerita orang tersebut lalu kita adaptasi. Saya ulangi, gak bisa tiba-tiba kita ngikutin cerita orang lain yang hebat terus kita langsung adaptasi secara teknis dan tiba-tiba kita langsung jadi hebat. Kagak bisa bos!

Hal yang perlu kita lihat adalah dari sudut pandang yang lebih luas dan lebih besar, bahkan kalau bisa kita lihat cerita orang-orang hebat ini dari lahir! Ya, dari pertumbuhan dan perkembangannya sejak kecil.

Gak jarang cerita saya masuk UI yang jadi juara di lomba blog Zenius tentang gimana Sedikit Cerita Saya tentang SBMPTN dan Jaket Kuning (klik di sini untuk tahu ceritanya!) digeneralisasi dan disimplifikasi. Dari pertanyaan yang saya terima sejak pertengahan tahun 2015. Saya menangkap seakan-akan ketika saya bercerita bahwa saya belajar 5 jam sehari, main game online, dan pindah tongkrongan LALU ketika cara saya belajar dan bertingkah laku ditiru maka itu adalah rumus sukses untuk SBMPTN dan masuk UI. Padahal, tidak sama sekali.

Bukan berarti ketika Steve Jobs pakai baju turtleneck hitam yang sama setiap harinya, lalu ketika lo pakai baju yang sama juga, lo akan jadi sesukses Steve Jobs. Bukan berarti juga ketika saya belajar 5 jam, dan lo ikutan belajar 5 jam sehari, maka lo akan lolos SBMPTN ke UI.

Untuk yang belum pernah baca tulisan cerita gua tentang SBMPTN, berikut adalah sedikit rangkumannya:

Intinya gua adalah anak bandel blangsakan di SMA. Akan tetapi di kelas 3 SMA gua memutuskan untuk berubah (gua mulai rajin belajar, gak nongkrong lagi, dsb.) dan pada akhirnya meskipun banyak orang bilang gua gak akan bisa masuk UI, unexpectedly, gua akhirnya masuk UI via SBMPTN.

Bisa dibilang cerita tersebut cukup inspiratif. Bahkan sampai memenangkan kompetisi blog Zenius yang pertama dan membuat banyak orang terinspirasi sampai bertanya-tanya lewat akun pribadi gua sendiri.

Nah, sejak cerita gua itu menangin kompetisi Zenius. Mulai banyaklah orang yang nanya-nanya ke akun/nomor pribadi gua, gak jarang dengan tujuan meniru cara-cara gua belajar -> Bahkan sampai ke berapa lama gua belajar, ditanyain dan dibilang akan dilakuin persis kayak gitu.  
Oke, udah ngerti? Kuy lanjut!
Tanpa diketahui, padahal sebetulnya cerita saya yang lulus SBMPTN itu tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan yang saya ubah sejak kelas 3 SMA. Lebih jauh dari itu, saya rasa kesuksesan saya di SBMPTN, menulis blog, bahkan leadership (misalnya menjadi Ketua BEM) ternyata SANGAT AMAT DIPENGARUHI dari faktor sejak saya lahir.

Lah kok jauh banget Van dari lahir?
Ya, tanpa teman-teman semua ketahui, sejak saya berumur tiga tahun, saya sudah belajar main game, belajar bahasa Inggris lebih cepat dari kebanyakan anak lainnya, main PlayStation sambil belajar, main game matematika, bahkan leadership sudah dipupuk sejak zaman SD di mana saya selalu menjadi Ketua Murid, SMP juga, dan SMA di mana saya juga menjadi wakil KM dan memimpin acara makrab di sekolah. Kemampuan presentasi, public speaking, berpikir kritis, sekaligus leadership saya pun sudah cukup terlatih sejak SD karena saya menjadi Dokter Kecil yang sempat mewakili sekolah juga. Tidak lupa saya juga pernah ikut olimpiade MIPA dan juara ketika saya SD.

Cerita one-shot-success yang saya tulis di tulisan SBMPTN itu fana, bohong, dan omong kosong. Jujur saja, basic saya sejak kecil sudah basic akademis. Kalau disangka saya pintar karena perilaku saya berubah saat SMA, itu bullshit. Saat SD saya selalu dapat ranking 1 setiap tahunnya, minimal ranking 3. Saya juga dapat nilai UN tertinggi di SD. Lanjut lagi, saya pun masuk ke SMP terbaik se-Bandung Raya. Ayah dan Ibu tiri saya yang dosen pun membuat lingkungan rumah saya penuh dengan buku, bacaan, dan juga film ilmiah.


Kalau dilihat dari basis saya sejak kecil, apakah dapat dikatakan bahwa pengalaman saya masuk UI merupakan pengalaman yang ‘keren’? Ternyata tidak. Memang cerita saya di SBMPTN terkesan heroik. Terkesan saya berubah di SMA, lalu dengan heroiknya masuk UI, dan pada akhirnya saat kuliah menemukan jati diri, hingga akhirnya menjadi Ketua Angkatan, bahkan Ketua BEM F. Psi. UI di tahun 2018 ini.

Apakah ini pengalaman yang ‘hebat’? Ternyata tidak. Semuanya terbangun dari habit. Buanyak banget dari kesuksesan yang saya alami terkondisikan dari faktor lingkungan. Dan faktor itu terakumulasi sejak kecil!

Menulis? Saya sudah menulis sejak saya SD. Di SD saya menulis diary. Di SMP, saya menulis di Tumblr (silahkan teman-teman lihat tulisan saya yang sangat amburadul di sana). Dan saat SMA, mulailah saya membuat blog. Saat kuliah lah saya pada akhirnya fokus di academic writing dan ketika ikut kompetisi sempat juara.

Apakah rahasianya adalah kerja keras? Tidak, rahasianya adalah faktor lingkungan yang akhirnya membiasakan (re: mengkondisikan) saya melakukan suatu hal secara terus menerus, di antaranya adalah belajar, menulis, dsb. Ya, rahasianya adalah habit (kebiasaan)!

Nih, kalau lo coba lihat juga orang-orang yang keren parah, seperti misalnya Mark Zuckerberg, Elon Musk, Bill Gates, dsb. Mereka pasti punya habit dan kondisi lingkungan tertentu yang sudah mereka lakukan dan alami sejak kecil. Misalnya, Bill Gates itu kutu buku banget. Dia suka banget baca. Kebiasaan/habit itulah yang akhirnya bikin dia jadi pinter banget, sampai akhirnya membuat terobosan yaitu Microsoft. Mark Zuckerberg dan Elon Musk? Dua orang itu sudah belajar coding sejak usianya di bawah 15 tahun.  

Dikutip dari salah satu jawaban di Quora oleh Pushpak Kamboj

“He learned coding from his early childhood days. His father gift him C++ for dummies as a birthday gift and from there he entered into the world of coding”
Saat kecil, Mark Zuckerberg diberikan C++ (salah satu bahasa koding) oleh ayahnya. Dulu memang dia cupu dan gak bisa dibilang jago, tapi tentu kondisi sejak kecil dan kebiasaan koding itulah yang membuat Mark terpikirkan untuk membuat Facebook saat kuliah.

Sedangkan Elon Musk, dia dapat komputer pertamanya saat ia berumur 10 tahun. Dan saat 12 tahun, karena ia sering baca buku (karena di rumahnya tersedia banyak buku), akhirnya ia belajar koding dan akhirnya membuat game dan menjual game tersebut. Jangan lupa kalau Elon Musk juga kutu buku. Semuanya karena ia dikondisikan (re: dibelikan) komputer dan membaca buku programming yang tersedia di rumahnya.

Dari cerita-cerita di atas pun, saya mulai menyadari bahwa sebetulnya hidup itu tidak adil. Ada kesempatan yang hadir untuk beberapa orang, dan sama sekali tidak hadir untuk beberapa orang lainnya. Ada orang yang masa kecilnya dikondisikan untuk menjadi sukses, dan ada yang tidak.

Sorry to say bahwa kemungkinan lo untuk sukses akan sangat amat kecil kalau lo atau orang tua lo tidak mengkondisikan hidup lo dengan baik sejak kecil sampai dengan sekarang.

Tetapi, sukses memang tidak ditentukan hanya oleh masa kecil. Lo bisa mengubah nasib lo sekarang, apalagi ketika lo tahu bahwa kondisi lingkungan dan kebiasaan adalah hal yang akan mengantar lo ke kesuksesan.

Lo bisa berubah! - Filosofi Remaja

Oleh karena itu, kalau lo merasa bahwa lo belum punya basic lingkungan dan habit tertentu yang mengkondisikan lo untuk hebat dalam suatu hal, coba cari dan bentuk habit dan kondisi lingukngan itu dari sekarang! Dan lakukan itu terus menerus.

Ada buku yang judulnya Outliers yang bilang bahwa bahwa kita perlu latihan (re: deliberate practice, latihan yang bener) selama ratusan bahkan ribuan jam untuk jadi hebat dalam suatu bidang tertentu.

Hal ini juga jadi pelajaran buat lo semua. Ketika lo baca tulisan orang yang tahu-tahu tiba-tiba sukses, lo harus kritis. Coba lo lihat backgroundnya, jangan-jangan orang tersebut sukses karena memang dia dikondisikan sejak kecil untuk jadi sukses, bukan karena hal tertentu yang ia lakukan, buku tertentu yang tiba-tiba ia baca, produk tertentu yang ia beli, atau cara tertentu yang ia lakukan. Bukan!

Sejak saat ini, jangan percaya dan tiru lagi cara tertentu orang-orang untuk jadi sukses/hebat dalam suatu hal. Lihatlah bigger picturenya. Apa sih habit yang orang tersebut lakukan? Dan apa kondisi lingkungan yang menyebabkan ia menjadi hebat dalam hal tersebut?

Kalau saya mengutip psikolog terhebat yang pernah ada (menurut saya) dari aliran Behaviorism, yaitu John B. Watson,

“Give me a dozen healthy infants, well-formed, and my own specified world to bring them up in and I’ll guarantee to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select—doctor, lawyer, artist, merchant-chief and, yes, even beggar-man and thief, regardless of his talents, penchants, tendencies, abilities, vocations, and race of his ancestors. (1930)”

Quotes dari John B. Watson, Psikolog Behaviorism - Filosofi Remaja

Ya, saya percaya bahwa semua manusia bisa menjadi apa saja, jika dikondisikan dan dibiasakan.

Dan saya pun percaya, bahwa habit dan kondisi lingkungan bukan hanya dapat diubah, dibuat, dan dikondisikan oleh orang lain saja (orang tua, guru, teman, dsb.), tapi juga dapat dibentuk oleh diri kita sendiri.

Bangun habit dan kondisi lingkungan lo dengan baik, dan lo akan menjadi sukses/hebat dari habit yang lo bangun tersebut.

Camkan bahwa untuk menjadi hebat, waktu sehari, sebulan, atau setahun tidaklah cukup. Menjadi hebat tidak sama seperti memasak mie instan. Butuh proses, butuh waktu, butuh habit dan usaha (yang mungkin juga tidak dapat dilihat oleh orang lain)

Sekian dan salam hangat,

Ifandi Khainur Rahim.

Filosofi Remaja,
Mengubah Paradigma Remaja Indonesia Menjadi Lebih Baik

Apakah Gue Sedang Tersesat? - Filosofi Remaja Podcast

Podcast

"Apakah gue sedang tersesat?"
Mungkin itu pertanyaan yang kita semua tanyakan ketika mengetahui bahwa tujuan sekolah, karir, atau hidup kita masih belum secara jelas terlihat oleh mata kita. Itu juga hal yang sebetulnya aku pertanyakan beberapa tahun lalu. Menariknya, hal tersebut muncul lagi dibenakku saat ini. Kalau kamu mengalami hal yang sama, yuk kita simak Filosofi Remaja Podcast yang terbaru tentang bagaimana kita bisa tersesat dalam hidup di sini (https://www.youtube.com/watch?v=YHBCS9wYRjY&index=2&list=PLP4JicSQVHhdGO1SbbXSDHAmi8wGqtW9z).

Simak juga tulisan terdahuluku yang berjudul 'tersesat', langsung saja klik list artikel dan klik linknya di sana! Selamat menikmati.

"Kamu Semester Ini Gak Usah Kuliah Lagi": Merayakan #1000LikesFilosofiRemaja

Curhat

Sangat menarik untuk mengetahui bahwa satu kalimat yang diucapkan oleh seseorang terhadap kita, jika waktu, momen, dan tempatnya tepat, akan dapat mengubah sikap kita terhadap suatu hal, bahkan secara radikal. Bisa jadi itu sudah terjadi pada anda. Mungkin terjadi pada anda ketika calon pacar anda mencoba ‘nembak’ anda sebagai pacar. Mungkin juga terjadi ketika orang tua anda mengatakan bahwa anda harus masuk jurusan kuliah tertentu, karena jurusan kuliah yang anda inginkan tidak menjamin anda sukses. Well, momen apa pun itu dan siapa pun orang yang mengatakan hal tersebut yang mampu mengubah sikap anda, saya yakin bahwa kita semua pernah mengalaminya. Kali ini, waktunya saya untuk menceritakan momen yang saya alami.

Singkat kata, semuanya berawal dari sebuah sore yang sunyi di awal bulan Oktober. Dua hari yang lalu, saya baru saja pulang dari tanah Kalimantan di dekat sungai Mahakam. Saya harus ke sana karena ada kewajiban terhadap salah satu organisasi nasional hebat tempat saya berkontribusi, yaitu ILMPI. Sebagai Pengurus Harian Nasional, tentu saya harus datang ke Rapat Koordinasi Nasional, tidak peduli mau sejauh apa pun itu. Untung saja pengurus BEM sangat suportif dalam mendukung saya dan ILMPI (terima kasih Diana, Salim, Ijah, Mia, dkk ;) ), sehingga masalah dana pun bisa ter-cover. Pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan memang merupakan pengalaman yang sangat mistik, entah mengapa sungai Mahakam setiap teringat di otak saya sampai sekarang tetap membuat saya merinding akan kehebatan dan kebesarannya.

Sayangnya, kondisi saya saat itu memang tidak sedang ada dalam kondisi yang baik, khususnya di bagian finansial. Saya harus bertarung dengan kondisi ayah saya yang stroke dan lumpuh sampai sekarang, terhitung sejak akhir bulan April 2017 lalu. Alhasil, segala masalah mulai muncul. Cicilan dari Ayah saya membludak. Mulai dari cicilan rumah, motor, biaya hidup, sampai ke biaya kuliah yang sampai sekarang belum saya bayar. Saya yang biasa hidup nyaman akhirnya merasakan sendiri dipukul oleh kehidupan.


Sayangnya, masalahnya bukan hanya itu. Ya, masalahnya kehidupan saya di pertengahan 2017 saat ini memang sedang hectic-hecticnya. Masalah akademis, tanggung jawab di tiga lembaga dengan jabatan tinggi yang harus saya pegang sekaligus (Ketua angkatan, BEM F. Psi UI, dan ILMPI), dan juga masalah finansial. Belum lagi di setiap lembaganya terdapat permasalahan internal maupun eksternal. Belum lagi tugas yang perlu uang administrasi seperti untuk print dsb. Belum lagi ini. Belum lagi itu.

Alhasil, sebetulnya sore hari itu saya betul-betul ingin istirahat. Bukan hanya karena capek secara fisik, namun juga mental. Seorang Ifandi yang mungkin biasanya tahan dengan segala tekanan saat itu setengah sadar, di satu sisi ia tahu bahwa ia kuat, namun di satu sisi ia sadar bahwa ia adalah manusia, yang bisa juga untuk merasa cukup. Ya, saya merasa sudah cukup dengan semua masalah, saat itu saya bisa tahu bahwa secara psikologis saya mencapai absolute threshold untuk burnout. Namun sore itu saya sadar bahwa malamnya saya memang harus menghadiri kewajiban lain, yakni rapat Tim Inti dan Badan Pengurus Harian (RATIBPH). Tentu saya belum bisa istirahat. Belum, Van.

Malamnya, saya hadir di RATIBPH, dan menariknya seiring dengan berjalannya rapat, saya mendengar ada kabar buruk dari Dept. Adkesma (Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa). Bahwa status saya sebagai mahasiswa akan dikosongkan, dan saya tidak bisa kuliah lagi semester tersebut. Dengan naifnya, saya saat itu tidak percaya dengan perkataan tersebut. Saya percaya bahwa UI tidak akan mengeluarkan mahasiswanya yang tidak mampu bayar biaya kuliah. Apalagi saya sudah mengurus segala administrasi untuk keringanan dari bulan Mei. Saya pikir, sungguh keterlaluan apabila hal ini terjadi pada saya.

Namun seperti yang sudah disangka-sangka, besoknya saya dipanggil ke ruangan salah satu pejabat fakultas. Inilah momen itu. Waktu, tempat, dan momen yang pas untuk mengatakan sesuatu yang mungkin bisa mengubah sikap saya secara radikal. Dan memang betul, itu mengubah sikap saya.

“Ifandi, saya ada kabar buruk. IRS kamu tidak bisa diurus lagi oleh Fakultas. Jadi, kamu gak usah masuk kuliah lagi di semester ini. Saya juga ada tawaran untuk kamu kerja digitalisasi data alumni, untuk mengisi kekosongan kuliah kamu di semester ini.”
Saya rasa tidak perlu saya ceritakan detil bagaimana saya menjawab tawaran dan pemberitahuan tersebut. Sebagai Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis, tentu saya harus tetap mempertahankan bargaining position, saya tidak bisa marah, namun tidak bisa juga menyerah begitu saja. Saat ini saya adalah akademisi, DAN HARUS TETAP MENJADI AKADEMISI.

Kali ini bukan saatnya untuk menyerah. Saya sadar bahwa ada yang salah dengan pemberitahuan dan tawaran tersebut. Bayangkan saja, 3 hari lagi saya UTS, saya sudah mengurus administrasi sejak Mei, dan pemberitahuan inilah yang saya dapatkan. Saya bisa telat satu tahun jika kondisi ini dibiarkan begitu saja. Saya pun memberikan penjelasan kepada si pejabat fakultas, sekaligus ultimatum, bahwa saya tidak akan diam. Tentu saya akan menggunakan power saya sebagai Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis dan Pengurus Harian Nasional ILMPI jika masalah ini tidak bisa selesai. Setelah diberi penjelasan, Alhamdulillah, ternyata kondisi saya masih bisa diperjuangkan.

Hal yang menarik adalah sekarang, kondisi saya mungkin sudah agak mendingan. Masalah finansial sedikit demi sedikit mulai bisa diselesaikan. Organisasi masih bisa saya jalani. Akademis? Bukan masalah selama IP saya tidak ada di bawah 3.00. Banyak pula teman yang selalu mendukung dan menawarkan bantuan.

Yang menjadi masalah sekarang mungkin adalah terkait dengan sikap saya terhadap kuliah dan hidup yang cukup berubah secara drastis. Satu kalimat utama dalam narasi pemberitahuan di atas terus menghantui saya. Saya jadi terpikir banyak hal yang ingin saya lakukan mulai sekarang dan nanti. Dan entah kenapa, satu hal yang saya rasakan adalah ketakutan. Ketakutan bahwa pilihan hidup yang saya pilih saat ini merupakan pilihan hidup yang... tidak tepat.

Akan tetapi, dengan segala drama dalam pikiran dan masalah di dunia, hal yang mungkin perlu sekali untuk saya syukuri tentu adalah fakta bahwa Filosofi Remaja, likers-nya selalu meningkat setiap minggu. Setidaknya saya tahu bahwa kawan-kawan merasa terbantu dengan adanya blog ini. Dengan post ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sangat senang dan bersyukur masih bisa membantu teman-teman semua, baik itu sesimpel masalah bagaimana cara belajar untuk SBMPTN atau sekompleks masalah paradigma tentang hidup.

Tempo hari saya mendapat cukup banyak email dan chat personal dari kawan-kawan pembaca yang mengalami masalah hidup. Lagi-lagi, saya mohon maaf karena hanya bisa read doang. Percayalah bahwa saya sangat ingin sekali membalas pesan kawan-kawan semua. Sayangnya, kondisi saya sekarang ini tidak memungkinkan untuk membalas semua pesan yang masuk.

Baiklah, mungkin cukup segini curhatnya, semoga Tuhan membersamai pergerakan kita semua.

Salam hangat dari saya,

Ifandi Khainur Rahim, (masih) mencoba mengubah paradigma.
Post ini dibuat untuk merayakan #1000LikesFilosofiRemaja

Gimana Cara Mengetahui Perasaan Gebetan terhadap Kita? - Filosofi Remaja Podcast

Podcast

Jadi guys, gua lagi pengen bikin video youtube sambil nge-podcast berbahasa Indonesia di sini. Sampai akhirnya jadilah podcast ini. Dan di podcast-podcast ini, sekaligus postingan podcast-podcast gua selanjutnya, gua bakal ngebahas tentang gimana caranya meningkatkan kualitas diri lo dan mungkin bacotin lo sambil liatin orang maen DotA atau game online lain.

Gua namain podcast style ini Filosofi Remaja Podcast. Well, ini adalah youtube podcast pertama gua. Temanya adalah gimana kita bisa tau apakah gebetan suka sama kita atau nggak.

Ya, nonton yak! Selamat menonton dan mendengarkan!


LINK PODCAST: >> https://www.youtube.com/watch?v=_Z1oZybspQU <<

Referensi:
1. https://markmanson.net/fuck-yes/ - Mindset "Fuck yes or no" dari Mark Manson

Jadwal Kuliah Pengganti Dadakan dan Hak Atas Kota

Opini

Pernahkah anda diberitahu secara mendadak oleh dosen tentang jadwal kuliah yang diundur atau diganti secara sepihak? Saya pernah, bahkan sudah beberapa kali. Jika anda juga pernah, maka saya sarankan untuk membaca tulisan ini sampai habis. Dalam esai singkat ini, saya akan membahas perihal jadwal kuliah pengganti dan hak atas kota.

Singkat cerita, kemarin (beneran kemarin), saya dikagetkan oleh kabar dari teman saya di salah satu mata kuliah yang saya ikuti. Ya, saya mendapat kabar bahwa kelas saya diundur. Asalnya, jadwal kuliah saya adalah jam 14.00, namun karena satu dan lain hal, satu hari sebelumnya dosen mengabari bahwa kelas diundur menjadi jam 16.00. Sayangnya, setelah kabar itu, saat hari ‘H’ tiba-tiba dosen yang mengajar mengatakan lagi bahwa kelas diundur menjadi jam 16.35, padahal sebetulnya mata kuliah ini, jika melihat jadwal, seharusnya diselesaikan pada jam 16.30.

Ya, begitulah fenomena yang terjadi kemarin. Mungkin anda saat membaca tulisan ini bertanya: “Terus apa sih hubungannya jadwal kuliah pengganti dengan hak atas kota?”.

“The right to the city is not merely a right of access to what already exists, but a right to change it after our heart’s desire” - Harvey, 2008
Menurut Harvey (2008), hak atas kota bukan hanya hak untuk mengakses sumber daya yang sudah ada, melainkan juga hak untuk mengubah dan mentransformasikan hal-hal yang ada di kota sesuai dengan kebutuhan kita. Ya, dan hak ini adalah hak kolektif seluruh warga kota. Lalu kaitannya dengan kelas di perkuliahan? Nah, jika kelas kita dan perkuliahan diibaratkan sebagai sebuah ‘kota’, maka kita tentu berhak untuk mengubah dan mentransformasikan hal-hal yang ada di kelas dan perkuliahan.

Jika kita kaitkan dengan kasus awal, yakni jadwal kuliah pengganti. Dosen sudah seharusnya memberikan mahasiswa jadwal yang fix dan tidak menganggu mahasiswa. Memang hak kita mendapatkan hal-hal itu, karena kebutuhan mahasiswa adalah untuk belajar dan hak kita untuk mendapat pengajaran. Akan tetapi, selain hak tersebut, dosen juga seharusnya memberikan “hak atas kota” pada mahasiswa. Hak atas kota dalam konteks perkuliahan ini, sesuai dengan definisi yang ditulis di atas, yang berarti hak terhadap perkuliahan sebagai sesuatu yang nyata, untuk kemudian mentransformasikan dan memperbaharui kuliah tersebut sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Artinya, mahasiswa di sini bukan saja punya hak untuk diberikan pengajaran, jadwal yang fix, sekaligus info dari dosen jika beliau tidak hadir. Mengacu pada definisi hak atas kota di paragraf kedua, maka hak atas kota bukan hanya hak untuk mengakses hal yang sudah ada (re: jadwal fix, diberikan pengajaran, dsb.), namun mahasiswa juga memiliki hak untuk mentransformasikan dan memperbaharui semua hal yang terjadi perkuliahan tersebut. Intinya, mahasiswa yang berkuliah bukan hanya pelaku pasif dari perubahan yang terjadi dalam perkuliahan, namun juga aktif terlibat dalam proses perubahan yang terjadi (LBH Jakarta, 2017). Dengan demikian, titik tolak dari hak atas kota dalam konteks ini adalah partisipasi mahasiswa terhadap perubahan yang terjadi di perkuliahan. Masalahnya, sekarang sudah sejauh mana sih kita berpartisipasi terhadap perubahan yang kita rasakan di kelas?

Oleh karena itu, ketika perubahan jadwal dan jadwal pengganti dari dosen hanyalah berdasarkan keputusan sepihak, maka dosen yang bersangkutan dalam konteks ini telah melanggar “hak atas kota” kita sebagai mahasiswa. Mengapa? Karena mahasiswa di sini hanya menjadi objek yang pasif dari perubahan, bahkan kita tidak diberi kesempatan untuk mentransformasi dan memperbaharui perubahan yang terjadi di kelas, yakni jadwal kelas pengganti itu sendiri.

Pada dasarnya, memang hak kita untuk menggunakan atau tidak menggunakan hak atas kota ini. Hak kita juga, untuk berpartisipasi atau tidak berpartisipasi. Namun, ketika kebijakan jadwal kuliah pengganti sepihak ini sudah menimbulkan kerugian, tentu merupakan hak kita juga untuk dapat mengkritik, mengevaluasi, dan mengubah kebijakan tersebut.

Mungkin saat ini anda sedang berpikiran bahwa masalah ini adalah masalah sepele. Beberapa dari anda mungkin akan bertanya: “Ngapain sih diribetin? Toh hanya perihal absen, kan? Secara rasional, dosen pun tentu menentukan jadwal pengganti saat kita sedang tidak bentrok dengan kelas lain, kan?” Betul sih, masalah ini sepele, namun hak atas kota ini perlu kita sadari dari masalah yang sepele, supaya kita bisa mengerti tentang substansi hak atas kota ini di masalah yang besar dan memengaruhi hajat orang banyak.

Coba bayangkan jika hak atas kota yang dilanggar adalah terkait hal yang substansial bagi kehidupan, seperti sandang, pangan, atau papan. Contoh paling sederhananya adalah seperti  penggusuran rumah secara sepihak, pembangunan yang merugikan rakyat kecil, dan banyak lagi. Tentu masalah-masalah seperti ini perlu kita perhatikan.

Dalam konteks lain, bila dikaitkan dengan kehidupan mahasiswa, coba kita lihat kebijakan dari pihak fakultas. Beberapa waktu lalu, di fakultas saya, pihak dekanat sempat memberikan kebijakan mendadak terkait renovasi kantin. Padahal, mahasiswa sering menggunakan kantin tersebut untuk melakukan aktivitasnya. Kalau kita menilik hak kita atas kota, maka seharusnya kebijakan itu tidak dilakukan secara sepihak. Ketika kebijakan dilakukan secara sepihak, maka perlu ditanyakan pada diri kita sendiri, sebetulnya di mana sih ‘hak atas kota’ kita? Apakah kita diberikan hak untuk itu oleh fakultas?

Nah, hak itu harus kita sadari juga sebagai mahasiswa. Setelah ditelisik, jangan-jangan ternyata sekarang kita sudah diberikan hak-hak tersebut oleh pihak dekanat, namun tidak kita gunakan. Sebagai contoh, sekarang fakultas saya memberikan hak untuk mengubah dan mentransformasikan kondisi kota kita (baca: Fakultas) dalam bentuk survei fasilitas serta kepuasan terhadap karyawan lewat SIAK (web sistem akademik), atau penyampaian aspirasi lewat Dept. Adkesma (Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa) BEM.

Jika ingin dilihat dari aspek lain lagi, kita bisa lihat sistem kegiatan kemahasiswaan. Setiap lembaga mahasiswa pasti punya program kerja, pertanyaannya, apakah kita diberikan hak untuk mengkritik, mengevaluasi, dan mengubah program kerja yang dijalankan oleh lembaga kemahasiswaan (re: BEM, DPM, dsb.)? Apakah kita ikut andil dalam penyikapan yang dilakukan lembaga tersebut? Jika belum, maka sebetulnya kita sebagai civitas, secara khusus sebagai mahasiswa berhak untuk mentransformasikan dan mengubah hal yang ada dalam lembaga tersebut. Hal ini dikarenakan lembaga mahasiswa merupakan bagian substansial dari ‘kota’ kita.

Hak atas kota ini pun seharusnya bukan saja disadari oleh stakeholder/pemegang jabatan seperti dosen, Ketua BEM, Ketua DPM, Kepala Departemen, pihak Dekanat, dsb., namun juga harus disadari oleh seluruh mahasiswa itu sendiri sebagai subjek dari perubahan yang terjadi. Saya beberapa kali melihat ketidaksadaran ini pada mahasiswa. Ketika ada mahasiswa yang mengkritik kebijakan yang dibuat oleh fakultas atau mengkritik proker yang diajukan oleh lembaga mahasiswa, tidak jarang kita mendengar perkataan bahwa: “Ah, itu mah bukan urusan lo, bukan urusan kita, kita kan cuman civitas biasa, itu mah urusan X!”, “Ah, nanti itu mah Y yang ngatur, kan mereka yang tanggung jawab, lo gak usah ikut campur lah!”, “Lah, lo jangan ngekritik dan terlalu berperan dalam proker X!”, atau “Kritik lo gak ngaruh coy, orang yang berkuasa kan X, Y, Z”.

Mindset ini menurut saya perlu diubah, sebab hak atas kota tentu adalah hak kita semua. Tidak peduli apa jabatan, peran maupun andil kita. Ketika kita adalah warga ‘kota’, maka kita berhak untuk mengkritik, mengevaluasi, dan mengubah, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap semua hal yang terjadi di ‘kota’ kita. Ini pun berlaku dalam setting perkuliahan.

Ya, mungkin ini adalah hal simpel. Namun, mindset ini perlu kita tanamkan pada diri kita. Mindset bahwa kita memiliki hak atas kota dalam seluruh setting apapun yang kita jalani. Selalu ingat saja bahwa kota, dan segala hal yang ada di dalamnya, tentu akan dapat mengubah diri kita. Jika dilihat dari konteks perkuliahan, tentu cara mengajar dosen, jadwal kuliah, dan tugas-tugas dapat mengubah perilaku kita sebagai manusia. Begitu pun dalam konteks kegiatan kemahasiswaan, sudah jelas bahwa proker seperti Ospek, Acara, dan banyak lagi, meskipun ada dari proker tersebut yang tidak terafiliasi dengan kita secara langsung, tetap saja proker tersebut dapat mengubah diri kita. Jika begitu, maka dapat disimpulkan bahwa kita sebagai warga kota terpengaruh oleh semua hal-hal yang ada dan terjadi di kota kita.

Oleh karena itu, dalam hal ini kita, sebagai manusia tentu berhak untuk mengubah diri kita, dengan cara mengubah kota kita (Harvey, 2008). Ya, ini adalah hak paling mendasar dan paling sederhana, yaitu hak untuk mengubah diri kita sendiri. Sayangnya, hak ini seringkali diabaikan oleh para stakeholder/pemegang jabatan, atau bahkan secara tidak disadari, oleh diri kita sendiri.

Daftar pustaka


Harvey, D. (2008). The right to the city. The City Reader6, 23-40.

LBH Jakarta. (2017). #JakartaKritis: Demokrasi yang jernih dan haka tas kota. Diakses pada tanggal 21 April 2017 dari http://www.bantuanhukum.or.id/web/jakartakritis-demokrasi-yang-jernih-dan-hak-atas-kota/

Cara Agar Menjadi Lebih Produktif #1: Hukum Produksi & Konsumsi

Personal Development

Masalah produktivitas adalah masalah yang dialami oleh semua kalangan, mulai dari kamu yang sekarang mungkin masih SMA, sampai dengan orang yang sudah kuliah ataupun bekerja. Ketika dihadapkan dengan tujuan atau deadline seperti tugas akademik atau organisasi, seringkali kita tidak melaksanakannya atau menunda-nunda. Ini menyebabkan kita pada akhirnya tidak mencapai tujuan awal kita.

Perlu kita tahu juga bahwa masalah produktivitas juga menjadi masalah besar negara Indonesia. Indeks produktivitas negara Indonesia menurut Asian Productivity Organization (2015) masih berada di bawah Malaysia, Thailand, dan bahkan Sri Lanka. Ini berarti tingkat produktivitas tenaga kerja negara Indonesia masih berada di bawah rata-rata di Asia. Itu baru Asia, belum berbicara tentang indeks produktivitas Indonesia di dunia.

Sebetulnya, pemerintah kita sudah aware akan masalah ini sejak tahun 2004, yaitu ketika pertama kali negara kita dipimpin oleh bapak SBY. Dari sana, pemerintah akhirnya membentuk BPPTK (Balai Pengembangan Produktivitas Tenaga Kerja) untuk menyelesaikan masalah produktivitas tenaga kerja di Indonesia. Meskipun produktivitas kita makin lama makin meningkat, sayangnya kinerja lembaga tersebut kurang begitu terlihat.

Pemerintah tentu tidak dapat menyelesaikan masalah produktivitas ini sendiri. Nah, karena urgensi tersebut, kali ini saya akan menulis rangkaian artikel tentang cara agar kita bisa lebih produktif. Ya, setidaknya supaya saya dapat membantu pemerintah mengubah paradigma kita sebagai orang Indonesia menjadi lebih baik perihal masalah produktivitas.

Rangkaian artikel yang saya buat ini akan berisi beberapa materi tentang produktivitas. Artikel ini adalah artikel yang pertama, yaitu terkait paradigma produksi & konsumsi. Well, tidak perlu basa-basi lagi, selamat membaca! Semoga bermanfaat!


Hukum 'Produksi & Konsumsi'


Sebelum kita membahas lebih jauh tentang bagaimana cara agar menjadi produktif. Ada pertanyaan yang harus kamu jawab terlebih dahulu. Ya, sebetulnya kamu tahu gak sih apa yang dimaksud dengan 'produktif'? 

"Produktif itu apa, sih?"
produktif/pro·duk·tif/ a 1 bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar). 
Jika melihat definisinya, pada dasarnya produktif adalah ketika kita mampu 'menghasilkan sesuatu' dalam jumlah besar. Atau kata lainnya adalah ketika kita mampu mem-PRODUKSI sesuatu dalam jumlah banyak. Ya, saat kita mampu memproduksi sesuatu hal atau karya, seperti misalnya lagu, tulisan, dan sebagainya dalam jumlah besar, maka barulah kita dapat dikatakan sebagai orang yang produktif.

Lalu, bagaimana cara supaya kita dapat menjadi produktif? Simpel, tentunya dengan mem-produksi sesuatu sebanyak-banyaknya. Seperti banyak menulis, menggambar, membuat lagu, atau apapun karya yang ingin kita produksi.

Meskipun begitu, memproduksi banyak sesuatu belum tentu membuat kita menjadi produsen yang berkualitas. Ya, semua orang bisa memproduksi banyak karya. Sehingga hal pertama yang harus menjadi pertanyaan bagi kita semua adalah: Sudah berkualitas belum karya yang kita produksi? 

Tentu, menjadi produktif itu baik. Namun jangan lupa bahwa kita juga harus memikirkan kualitas karya yang kita produksi. Maka, sebelum kita membahas bagaimana cara agar menjadi produktif, pertama-tama kita seharusnya berfokus dulu pada hasil produksi kita.

Menghasilkan banyak karya tidak akan bernilai apa-apa jika karya-karya tersebut tidak bermakna atau tidak bermanfaat. Kita perlu memproduksi hal yang berkualitas. Akan lebih baik jika menghasilkan satu karya yang sangat bagus, bukan? daripada menghasilkan banyak karya yang tidak bermakna? Oleh karena itu, pertanyaan yang harus dijawab oleh kita semua kali ini adalah:

Bagaimana cara agar 'produksi' karya kita bisa berkualitas?
 Jawabannya (lagi-lagi) sangatlah simpel.

Produksi yang berkualitas hanya akan muncul ketika kita melakukan konsumsi yang berkualitas. 
Misalnya, kamu ingin menjadi fotografer handal. Maka, hal yang harus kamu lakukan adalah dengan memfollow sebanyak-banyaknya fotografer terbaik dalam feed instagram-mu, dan unfollow orang dengan foto yang abal-abal. Mengapa? Sebab dengan mengonsumsi feed foto yang berkualitas, lama kelamaan secara tidak langsung kamu akan dapat mengidentifikasi mana foto yang berkualitas dan mana yang tidak. Ini akan berpengaruh pada foto yang langsung kamu ambil di 'lapangan'.

Sama juga halnya dengan contoh lain, misalnya menulis. Untuk dapat menulis dengan baik, kita harus banyak membaca tulisan-tulisan orang yang jago menulis. Sekaligus mengurangi konsumsi hal lain yang kurang berkaitan dengan menulis. Ya, selalu ingatlah bahwa produksi yang baik dihasilkan dari konsumsi yang baik. Perkembangan diri dimulai dari mengonsumsi hal yang berkualitas dan selaras dengan hal yang ingin kita kembangkan!

Coba lihat teman kamu yang hebat dalam melakukan hal tertentu. Misalnya main gitar, sesekali saat bertemu coba kamu tanyakan kegiatan kesehariannya. Saya yakin kegiatannya tidak akan jauh dari mendengarkan musik atau latihan bermain gitar. Musik yang dikonsumsi oleh orang tersebut pun pasti berbeda daripada musik 'mainstream' yang didengar oleh kebanyakan orang. Ya, pasti berbeda dan lebih berkualitas!

Contoh lainnya adalah orang yang jago fotografi. Coba deh cek following instagram mereka. Saya yakin mereka banyak memfollow orang yang jago dalam fotografi dan memiliki foto berkualitas.

Oleh karena itu, jika kamu merasa stuck (tidak berkembang) dalam hidupmu sekarang, coba cek lagi hal yang kamu lakukan setiap hari. Ya, setiap hari kamu mengonsumsi apa sih? (nonton televisi? youtube? facebookan? instagram? baca koran?) Setelah itu tanyakan kembali pada dirimu, apakah hal-hal tersebut adalah hal yang seharusnya kamu konsumsi? Apakah konsumsi tersebut masih belum selaras dengan tujuan/skill yang ingin kamu capai/tingkatkan? Atau ternyata sudah selaras, tapi konsumsinya masih belum berkualitas?

Lagi-lagi, yang tahu sudah seberapa baik konsumsimu dalam hidup hanya kamu, karena kamu sendiri lah berperan sebagai 'konsumen'. Bukan teman, guru, atau bahkan orang tuamu! Dan satu-satunya orang yang dapat mengontrol konsumsi tersebut adalah kamu sebagai konsumen itu sendiri!


Oleh karena itu, hal pertama yang harus kamu lakukan untuk menjadi produktif adalah dengan menguasai cara produksi karya yang berkualitas. Bagaimana caranya?

1. Mengatur konsumsimu setiap hari. Sadarlah dengan hal yang kamu lakukan setiap hari.
Coba tanyakan pada dirimu sendiri. "Hari ini, gue udah konsumsi apa aja ya? Apa konsumsi yang harus gue tambah? Apa yang harus gue kurangi?"

2. Selaraskan 'konsumsi'-mu sehari-hari dengan 'produksi'-mu. Maksudnya selaraskan di sini adalah menyamakan hal yang kamu konsumsi dengan hal yang ingin kamu produksi. Misal kamu ingin jago menulis, ya konsumsi kamu sehari-harinya harus dipenuhi dengan membaca tulisan.

3. Konsumsi hal yang berkualitas. Tinggalkan konsumsi yang abal-abal. Tingkatkan konsumsi yang berkualitas.

Well, begitulah seri pertama dari rangkaian artikel produktivitas! Tunggu seri selanjutnya, ya!