Apakah Kamu Bahagia? - Part 2, #BeKindToYourMind

Curhat

Ide dari cerita ini terinspirasi dan banyak copas dari tulisan Edward Suhadi

Saya masih ingat, terakhir kali saya menulis reflektif tentang kebahagiaan adalah saat tahun 2015. Waktu itu saya baru saja terpilih sebagai Ketua Angkatan Psikologi UI 2015 sekaligus sedang tertarik dengan Positive Psychology, dan hal yang saya coba lakukan adalah menganalisis kebahagiaan teman angkatan saya.

Tidak terasa, sudah tiga tahun berlalu sejak saat itu. Dan entah kenapa, saya rasa setelah tiga tahun lamanya, malam ini merupakan saatnya bagi saya untuk berefleksi lagi tentang kebahagiaan. Namun kali ini, bukan tentang kebahagiaan orang lain, tapi tentang diri saya sendiri.

Di malam yang sunyi, apalagi kalau ditemani kopi dan rokok, biasanya saya selalu memikirkan tentang hal-hal yang sudah saya lakukan di tahun ini. Salah satu yang sangat memorable adalah ketika saya liburan bersama dua teman baik saya ke Bali.




Jalan-jalan di kota yang ‘toleran’ dan indah dengan tempat wisata yang katanya ‘infinite’ dengan pemandangan (entah itu bukit, laut, sawah, pantai, sunset, dan sebagainya) saat itu membuat saya terkesima. Bagaimana tidak, satu-satunya hal yang saya pikirkan saat di Bali adalah bagaimana saya bisa tinggal di sana selamanya.


Pasti enak tinggal di tempat seperti itu. Makan enak, naik motor ke pelabuhan, lihat sunset tiap hari, ngobrol sama turis bule dan banyak lagi hal keren yang gak bisa saya sebutkan satu-satu. Ya, rasanya pasti seperti di surga.

Tapi walaupun kepala saya berpikir seperti itu saat di sana, saat di jalan pulang, saya selalu sadar bahwa pemikiran itu akan dijawab oleh kepala saya dengan: 

“Kayaknya mending nggak deh”.
 Ya, kayanya... nggak, deh.

Saya yakin, pasti banyak dari anda, para pembaca yang budiman bertanya:

“Lha lu emang nggak mau tinggal di Bali!?”.

Oke, saya coba jelaskan. Jadi begini, saya yakin pasti banyak banget orang punya mimpi supaya sampai di sebuah tempat yang ya udah, seumur hidupnya bisa cuma hidup enak terus-terusan. Anda juga mungkin begitu, ya kan? Sudahlah ngaku saja, pasti anda berpikir enak kan kalau hidup seperti itu? Tidak perlu kerja, tidak punya kewajiban, dan tidak ada stress.

Tapi kalau menurut saya, hal yang bikin hidup kita bahagia itu sebetulnya bukan keadaan ketika ‘penuh’, tapi justru kegiatan ‘mengisi’ dan ‘menghabiskan’-lah yang membuat kita bahagia.

---

Skenarionya gini, anggaplah dengan sebuah keajaiban yang entah dari mana, saya dan pacar saya berikut dengan teman-teman saya tiba-tiba pindah ke Bali. BOOM. Ya. Begitu saja. Pindah ke Bali. 

Kota yang menurut saya rasanya seperti surga. Dan bukan cuma pindah, tapi saya juga dapat sebuah rumah yang keren menghadap ke pantai sekaligus dengan uang sebesar 1 juta dollar yang siap untuk dipakai.

Hal pertama apa yang saya lakukan? Mungkin saya akan langsung membeli kamera mirrorless yang selalu saya impikan dan memfoto (sekaligus bikin video ala Sam Kolder) pemandangan dari rumah baru saya dari berbagai sudut. Hingga akhirnya mungkin saya kecapean dan duduk di sofa rumah saya yang keren banget karena menghadap langsung ke pantai.

Sambil duduk, saya pasti akan sampai ke pertanyaan ini:

“Terus?”
Oke, mungkin setelah ini saya akan lari sore. Ya, saya selalu suka lari pagi/sore di pantai. Sambil foto-foto sunset dan pemandangan sekitar yang pastinya keren banget. Sampai mungkin akhirnya saya akan kembali pulang.

Ya, kembali ke sofa saya lagi dan kembali ke pertanyaan yang sama:
 “Terus?”
Oh iya! Makan, karena pastinya banyak banget makanan enak di sini. Mungkin saya akan makan sebanyak-banyaknya, karena saya tidak perlu pusing bagaimana harus membayarnya (ingat uang 1 juta dollar tadi).

Oh iya, jangan lupa lagi pertanyaan ini:
“Terus ngapain lagi?”

Tidur? Yup, istirahat lah Van. Besok juga gak usah bangun pagi. Bangun siang aja karena memang tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan. Tidur-tidur-tidur. Main HP. Makan. Tidur-tidur-tidur.
“Terus?”
Err. Gak.... tau.
Ya, kita seringkali mimpi. Mau punya hidup yang begini lah, atau yang begitu lah. Intinya, hidup yang serba ‘penuh’. Tanpa membayangkan bagaimana sebetulnya kalau hidup kita sudah seperti itu dan bagaimana hari-hari yang kita jalani setelah ‘mimpi indah’ kita tercapai.

Memangnya bisa ya, hidup bahagia hanya dengan hidup enak? Saya pikir... tidak.

Dalam teori Psikologi, kalian yang anak Psikologi pasti sudah tahu tentang konsep desensitization.  

Contohnya gini, mau sesuka apapun anda terhadap cheesecake paling enak di dunia, rasa kue pertama mungkin akan terasa seperti surga. Kue kedua? Ya mungkin masih seperti surga. Tapi ketika anda sampai di kue ke-10, mungkin anda ingin muntah karena merasa bahwa kuenya udah kebanyakan

Ya, sama halnya dengan hidup. Kita gak bisa bahagia kalau hidup cuma hanya ada ‘enak’-nya saja.

"Lah, jadi lo gak seneng Van kalau punya rumah keren? Ke pantai? Banyak duit? Makan enak? Punya kamera bagus? Gak usah bangun pagi buat kuliah atau kerja?"

Ya seneng lah! Lu pikir aja, gua juga manusia, bro.

Tapi saya juga senang... atau bisa dibilang ‘bahagia’ dengan hal-hal lain, contohnya seperti:

Ketika saya rapat BEM sampai malam, meskipun ada tugas kuliah besoknya, untuk mewujudkan visi BEM yang saya pengen.

Ketika harus datang pagi (jam 6.30) untuk sambutan opening acara di Jakarta, eh ternyata teknisnya cacat, terus sedih dan malu... Tapi hepi lagi besoknya karena pas closing acaranya melebihi ekspektasi.

Ketika harus merasakan sport jantung karena dipaksa orasi di depan ribuan mahasiswa baru UI.

Ketika diskusi tentang isu sosial politik terkini, gosip di Fakultas, dan ikut demo sekaligus bikin gerakan kontroversial atau gerakan lucu (seperti bagi-bagi tempe).

Ketika capek dan memutuskan buat bucin dan pacaran, eh malah berantem sama doi, abis berantem hepi lagi karena maaf-maafan dan jadi bucin (lagi).

Ketika ngasih arahan dan apresiasi ke anak-anak BEM yang juga lagi sama-sama usaha buat mewujudkan visi yang sama.

Ketika mentoring dan ngajarin mata kuliah Sejarah dan Aliran Psikologi yang katanya susah itu. Dan ngeliat anak-anak mentee berkembang dan ngasih hadiah apresiasi yang tetep saya pake sampe sekarang (kalo lo ada yang baca ini thanks lho kemejanya, mentee-mentee kesayanganku! hehe :) )

Ketika melihat anak-anak BEM bertumbuh dan menjadi orang yang makin becus setelah dapet masalah...

Ketika BEM dibilang cacat oleh orang yang tidak tahu sama sekali tentang kondisi internal di dalamnya dan inovasi serta kesuksesan yang saya dan anggota BEM buat terjadi di tahun ini. Ah, bahagia sekali saya menertawakan mereka dalam hati.

Ketika bisa ngebantu orang-orang Bandung buat lancar berkuliah di UI, lewat paguyuban

Ketika dimarahin dosen yang sensitif di satu matkul, tapi di matkul lain diapresiasi oleh dosen lain, bahkan diajak bikin riset bareng.

Ketika bikin gerakan dan inovasi yang bisa membuat perubahan yang nyata bagi sekitar

Ketika apa yang saya punya, bisa membantu orang lain.

---

Jika tujuan hidup kita adalah ‘kepenuhan’ dari semua resource yang ada . Mulai dari uang, waktu, kelancaran di semua bidang. Dalam waktu yang sangat singkat, saya yakin hidup akan berubah menjadi membosankan. Boro-boro membahagiakan.

Tapi, jika hidup isinya hanya hal yang menghabiskan baterai: kerja-kerja-kerja, stress, urban-stress (ea, stress perkotaan), dan marah-marah terus, ya jelas pasti bakal sedih. Capek. Susah buat bahagia kalau kalau kita gak #BeKindToYourMind.

Makannya, saya selalu yakin bahwa kunci dari hidup bahagia adalah hidup yang penuh dengan charging dan spending.


Kalau baterai kamu habis? Ya isilah dengan hal-hal yang menyenangkan. Pergi ke Bali bisa jadi salah satunya. Atau mungkin sesimpel jalan-jalan pagi di CFD tengah kota (?). Atau sekedar memberi makanan yang kamu punya ke temanmu yang kelaparan, hahahah. Entahlah, pasti ada kan hal yang kamu senang melakukannya? Lakukan saja hal itu.

Tapi ketika baterai kamu sudah penuh kembali. Pastikan bahwa kamu menghabiskan baterai itu untuk hal yang menantang. Ya, hal yang bermanfaat yang membuat darahmu berdesir ketika bekerja. Hal yang membuat kamu tidak tidur untuk memikirkan apa strategi selanjutnya. Hal yang kamu perjuangkan pertumbuhannya, layaknya pohon di ladang yang akan berbuah gemuk dan manis, dan nantinya akan dinikmati banyak orang.

“Jangan cuma bermimpi dan berdoa buat hidup yang selalu ‘penuh’. Berdoalah untuk hidup yang penuh dengan kesempatan untuk ‘menghabiskan’ diri kamu.” – Edward Suhadi
Kalau dibilang bahagia dan suka dengan kesibukan hidup saya sekarang. Ya, saya suka semua itu. Sesuka, sesenang dan sebahagia itu, yang bahkan kalau saya diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan selama 1000 tahun lagi, saya mungkin bisa mengatakan bahwa saya rela mengisi ratusan tahun di dalamnya dengan kesibukan yang saya jalani sekarang.

Makannya, kalau kamu merasa gak nyaman dengan hidupmu, entah itu gak bahagia atau marah-marah mulu, setidaknya ada dua alasan dibalik hal tersebut. Entah kamu lupa ngecharge baterai kamu, atau kamu yang lupa menghabiskan baterai yang sudah penuh tersebut.

Inget aja bahwa orang sekaliber Elon Musk pun bisa merasakan gejala depresi gara-gara kebanyakan kerja (cek aja artikelnya di google). Dan orang kaya sekalipun bisa depresi dan bunuh diri kalau sudah bosan hidup (meskipun kaya!).

Alhamdulillah, dengan pekerjaan dan kesibukan saya yang sekarang. Saya bisa mengatakan bahwa saya bahagia. Semoga seribu tahun lagi tetap seperti ini. Terima kasih Tuhan.

Sekarang, pertanyaannya saya tanyakan untuk kamu:

Apakah kamu bahagia?

Ditulis setelah ngerjain KAUP (Baca: Kutukan Allah untuk Psikologi, hehe nggak deng, yang bener Konstruksi Alat Ukur Psikologi) 

Dini hari, Selasa, 25 September 2018, Kota Depok

Ifandi Khainur Rahim

Saat ini masih menjabat sebagai:
Ketua BEM Fakultas Psikologi UI 2018
Wakil Ketua Paguyuban Urban UI 2018

Semoga akhir tahun nanti dapat ditutup dengan manis. Aamiin.

Jangan Takut Dibenci

Opini
Jangan takut dibenci - Filosofi Remaja

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja melihat video commencement speech dari Adrian Tan (klikdi sini untuk membaca keseluruhan speechnya),

Don’t work. Be hated. Love someone. – Adrian Tan
Meskipun memang terdapat beberapa saran yang kontradiktif (seperti misalnya saran be hated dan dont speak the truth dalam waktu bersamaan-tapi saya tidak akan bahas itu di sini), namun saya merasa terdapat saran yang penting terkait dengan kehidupan yang bagi saya pribadi cukup bermakna, yaitu terkait dengan kebencian orang.

Be hated, begitulah kata Adrian Tan saat ia menyampaikan commencement speech-nya. Sebuah saran yang menurut saya cukup kontroversial, karena siapa sih orang yang mau dibenci?

Kalau kata Derek Muller, pendiri channel Youtube Veritasium, hate is a strong word (klik di sini untuk melihat video opini Veritasium terkait dengan konsep "Be Hated"). Ya, benci tentu merupakan hal yang mungkin kata banyak orang sudah sepatutnya dianggap negatif.

Akan tetapi, hal yang menarik adalah bahwa justru ketika kita melihat banyak figur-figur hebat yang membuat perubahan yang substansial, ternyata sangat jarang sekali ada figur yang tidak pernah dibenci oleh orang lain.

Hampir semua figur-figur yang membuat perubahan besar di dunia ini mereka pernah dibenci oleh orang lain saat mencoba melakukan aksi untuk membuat perubahan tersebut.

Mulai dari Einstein, Sigmund Freud, Steve Jobs, Elon Musk, bahkan Nabi Muhammad sekali pun pernah dibenci oleh orang lain. Einstein? Gurunya sendiri membencinya ketika ia bersekolah. Saat sudah menemukan teori relativitas pun ia sempat dihujat secara umum oleh beberapa ilmuwan terkenal pengikut Newton pada masanya. Sigmund Freud? Bahkan sampai sekarang teorinya masih kontroversial, dan banyak sekali haters dari Sigmund Freud sejak ia praktik di tempatnya. Nabi Muhammad pun sedibenci itu sampai diludahi dan dilempari batu oleh warga saat sedang melewati jalanan.

Einstein dan Sekolah - Filosofi Remaja

Dari sini, bisa kita lihat bahwa seseorang tidak perlu menjadi jahat untuk dibenci oleh orang lain. Malahan, justru orang yang dibenci adalah orang yang sebetulnya mempertahankan idealisme dan juga prinsip pribadinya di tengah-tengah masyarakat yang konformis (ngikut-ngikut bae) ini.

Ya, orang yang dibenci adalah orang yang berani menjadi berbeda di tengah masyarakat yang kebanyakan punya pemikiran yang sama, memang tidak selalu orang baik yang dibenci oleh orang-orang, orang jahat juga seringkali dibenci oleh orang-orang. Maka dari itu, menurut saya dari sini kita bisa sepakat bahwa orang yang dibenci adalah orang yang punya pengaruh.

Ada orang bijak juga yang pernah mengatakan bahwa untuk membahagiakan semua orang adalah hal yang mudah. Cukup dengan jangan pernah terlibat di dalam argumen, dan selalu menuruti apa kata orang. Selesai, anda akan disenangi oleh banyak orang di sekitar anda. Namun apakah itu adalah hal yang baik? Bisa jadi. Bisa jadi menurut anda menjadi baik di mata orang lain merupakan hal yang baik.

Akan tetapi, jika anda ingin berusaha membuat perubahan dan mewujudkan dampak besar, maka bermain aman dengan cara membahagiakan semua orang menurut saya bukanlah hal yang tepat.

Mau tidak mau, ketika kita ingin menciptakan perubahan yang besar, pasti akan ada saja orang yang berbeda pendapat, tersinggung, atau orang-orang yang entah kenapa akhirnya tiba-tiba benci kita karena sesuatu hal yang kita lakukan.

Menurut saya menjadi orang yang dibenci adalah sebuah keniscayaan bagi pemimpin yang berusaha membuat perubahan yang substansial

Steve Jobs sendiri pernah mengatakan bahwa sebetulnya sebagai pemimpin, akan sangat sulit jika kita ingin membahagiakan seluruh bawahan ataupun masyarakat yang kita pimpin.

Dalam quotes-nya yang terkenal, Ia menyebutkannya seperti ini:

Kutipan dari Steve Jobs - Filosofi Remaja
Kutipan dari Steve Jobs - Filosofi Remaja
Lebih jauh dari itu, sebetulnya dibenci oleh orang lain merupakan cara kita juga untuk dapat mengubah paradigma orang lain, manusia lain, kelompok lain, agar dapat mengubah kognisinya menjadi sesuai dengan apa yang kita percayai.

Mungkin banyak yang mengatakan bahwa menulis postingan di internet, di sosmed, atau di blog seperti saya sekarang ini tidak akan terlalu berpengaruh bagi pemikiran orang lain. Bahkan ada pribahasanya sendiri, bahwa ‘haters’ will be ‘haters’, dan ‘lovers’ will be ‘lovers’.

Namun bayangkan jika anda, setelah menulis, dapat mengubah paradigma orang yang membaca tulisan anda menjadi lebih baik. Setidaknya membuat ia (meskipun tidak setuju dengan anda) dapat mengerti dengan argumen yang anda ingin sampaikan. 

Akan menjadi kebahagiaan lebih juga bagi anda apabila setelah orang membaca tulisan anda, bukan hanya aspek kognitif yang berubah (bukan hanya "ngeh"/sadar), namun juga afektif (secara emosi) dan juga perilakunya berubah. Sebegitu kerennya sebuah tulisan jika dapat mengubah perilaku orang.

Nah, hal inilah yang selama ini dilakukan oleh Filosofi Remaja. Tidak jarang juga ada beberapa dari artikel yang saya tulis yang mendapat kecaman, kritikan, bahkan ancaman.

Saya tidak pernah takut. Justru ketika tulisan saya membuat saya mendapat ancaman, maka berarti saya sudah cukup populer untuk merambah populasi orang yang berbeda pikiran dengan saya.

Dan hal inilah yang mesti dilakukan. Untuk itulah menurut saya seharusnya orang-orang menulis. Untuk menjangkau orang-orang yang pemikirannya masih netral atau kontradiktif dengan saya agar saya dapat mengubah paradigma mereka menjadi lebih baik.

Sesimpel itu. Oleh karena itu, untuk anda di luar sana yang ingin membuat perubahan, jangan takut dibenci. 

Udah itu aja. Sikat!

Salam hangat,
Ifandi Khainur Rahim

Filosofi Remaja, Mengubah Paradigma Remaja Indonesia Menjadi Lebih Baik.

Anggapan yang Salah Tentang Kesuksesan

Opini

Suatu hari di bulan Februari di tahun 2018, saya sempat membuat catatan singkat di kepala saya tentang kesuksesan dan kegagalan. Ya, sebuah catatan tentang bagaimana saya bisa ada di titik di mana saya hidup sekarang ini. Catatan itu berawal dari pertanyaan buanyak orang yang membaca blog saya dan akhirnya memutuskan untuk mengontak saya langsung. Pertanyaan apakah itu? Berikut adalah pertanyaan yang mungkin bisa saya rangkum:

Kak, gimana sih caranya biar jago nulis, berpikir kritis, jadi leader, dsb? Aku dari dulu selalu coba tapi gak pernah bisa jadi hebat
Lalu saya pun berpikir, apakah saya bisa dibilang ‘hebat’? Setelah dipikir-pikir, ternyata tidak. Achievement dan kemampuan saya masih sangat minim dari hal-hal yang banyak orang tersebut tanyakan. Dan karena saya tidak beranggapan bahwa saya hebat, saya selalu menjawab pertanyaan seperti itu dengan balasan terima kasih saja, dan tidak membalas lagi reply orang yang bertanya tentang hal tersebut.

Bahkan bisa dibilang sejak awal tahun 2018 ini, saya sangat sering sekali hanya nge-read doang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman pembaca Filosofi Remaja. Kesibukan akademis, kehidupan anak kontrakan yang harus masak, nyuci, bersih-bersih sendiri, sekaligus dengan pegangan jabatan sebagai Ketua BEM F. Psi. UI membuat saya jarang sekali aktif menjawab pertanyaan selain urusan organisasi ataupun akademis, tidak terkecuali pada akhirnya blog Filosofi Remaja jadi terbengkalai. Oleh karena itu, di artikel ini pun saya ingin meminta maaf jika ada teman-teman yang merasa tersinggung/tidak enak karena saya cuman read doang.

Progress Filosofi Remaja

Saya pun sudah lama sekali tidak sempat menulis di Filosofi Remaja. Saya bersyukur sekali followersnya entah kenapa selalu bertambah. Yah, minimal seminggu satu followers bertambah di Facebook. Ini artinya blog saya meskipun didiamkan pun tetap berprogress. Sayangnya, progressnya semakin hari semakin menurun (too bad!). Inilah yang membuat saya tidak boleh tinggal diam. Ya, saya harus menulis lagi!

Oke, lanjut ke cerita awal. Lalu bagaimana jawaban dari pertanyaan yang buanyak orang tanyakan tersebut? Saya memutuskan untuk menjawab di artikel yang saya tulis sekarang.

Ya, jadi gimana sih caranya biar bisa jago nulis? Gimana caranya supaya bisa bikin blog dengan banyak tulisan? Gimana sih caranya jadi Ketua BEM Fakultas? Gimana sih caranya bikin banyak tulisan yang viral di medsos? Gimana sih cara menang kompetisi nulis? dsb.

Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebetulnya bisa dirangkum menjadi: 

Bagaimana cara agar kita bisa sukses/hebat dalam sesuatu hal?
Caranya? Jujur, menurut saya pribadi, tidak ada cara spesifik untuk menjadi sukses/hebat dalam suatu hal. Jika pun ada, tentu orang-orang akan menggunakan cara tersebut untuk menjadi hebat dan semua orang akan menjadi hebat, bukan? Kalau kata Casey Neistat, ‘there’s no define pathway to success’. Dan saya percaya, perkataannya terkait cara sukses tersebut sangatlah tepat.

Tidak ada jalan yang baku menuju sukses, Casey Neistat - Filosofi Remaja


Tentu kita tidak bisa merencanakan semudah itu untuk jadi hebat. Ya, susah untuk mencari rumus spesifiknya. Tidak ada yang namanya rumus saklek untuk sukses di dunia ini.

Eits, tapi bentar dulu. Untuk apa saya buat tulisan ini kalau saya tidak punya solusi atas pertanyaan yang diajukan barusan?

Begini, saya punya solusinya. Jadi, menurut saya kalau saja ada hal yang boleh saya sarankan untuk menjadi sukses atau hebat dalam suatu hal, saran tersebut hanyalah satu. Bahwa: Menjadi hebat itu perlu habit dan kondisi lingkungan.

Kita tidak akan pernah bisa melihat narasi/cerita orang lain yang hebat lalu mengeneralisasi begitu saja cerita orang tersebut lalu kita adaptasi. Saya ulangi, gak bisa tiba-tiba kita ngikutin cerita orang lain yang hebat terus kita langsung adaptasi secara teknis dan tiba-tiba kita langsung jadi hebat. Kagak bisa bos!

Hal yang perlu kita lihat adalah dari sudut pandang yang lebih luas dan lebih besar, bahkan kalau bisa kita lihat cerita orang-orang hebat ini dari lahir! Ya, dari pertumbuhan dan perkembangannya sejak kecil.

Gak jarang cerita saya masuk UI yang jadi juara di lomba blog Zenius tentang gimana Sedikit Cerita Saya tentang SBMPTN dan Jaket Kuning (klik di sini untuk tahu ceritanya!) digeneralisasi dan disimplifikasi. Dari pertanyaan yang saya terima sejak pertengahan tahun 2015. Saya menangkap seakan-akan ketika saya bercerita bahwa saya belajar 5 jam sehari, main game online, dan pindah tongkrongan LALU ketika cara saya belajar dan bertingkah laku ditiru maka itu adalah rumus sukses untuk SBMPTN dan masuk UI. Padahal, tidak sama sekali.

Bukan berarti ketika Steve Jobs pakai baju turtleneck hitam yang sama setiap harinya, lalu ketika lo pakai baju yang sama juga, lo akan jadi sesukses Steve Jobs. Bukan berarti juga ketika saya belajar 5 jam, dan lo ikutan belajar 5 jam sehari, maka lo akan lolos SBMPTN ke UI.

Untuk yang belum pernah baca tulisan cerita gua tentang SBMPTN, berikut adalah sedikit rangkumannya:

Intinya gua adalah anak bandel blangsakan di SMA. Akan tetapi di kelas 3 SMA gua memutuskan untuk berubah (gua mulai rajin belajar, gak nongkrong lagi, dsb.) dan pada akhirnya meskipun banyak orang bilang gua gak akan bisa masuk UI, unexpectedly, gua akhirnya masuk UI via SBMPTN.

Bisa dibilang cerita tersebut cukup inspiratif. Bahkan sampai memenangkan kompetisi blog Zenius yang pertama dan membuat banyak orang terinspirasi sampai bertanya-tanya lewat akun pribadi gua sendiri.

Nah, sejak cerita gua itu menangin kompetisi Zenius. Mulai banyaklah orang yang nanya-nanya ke akun/nomor pribadi gua, gak jarang dengan tujuan meniru cara-cara gua belajar -> Bahkan sampai ke berapa lama gua belajar, ditanyain dan dibilang akan dilakuin persis kayak gitu.  
Oke, udah ngerti? Kuy lanjut!
Tanpa diketahui, padahal sebetulnya cerita saya yang lulus SBMPTN itu tidak hanya dipengaruhi oleh kebiasaan yang saya ubah sejak kelas 3 SMA. Lebih jauh dari itu, saya rasa kesuksesan saya di SBMPTN, menulis blog, bahkan leadership (misalnya menjadi Ketua BEM) ternyata SANGAT AMAT DIPENGARUHI dari faktor sejak saya lahir.

Lah kok jauh banget Van dari lahir?
Ya, tanpa teman-teman semua ketahui, sejak saya berumur tiga tahun, saya sudah belajar main game, belajar bahasa Inggris lebih cepat dari kebanyakan anak lainnya, main PlayStation sambil belajar, main game matematika, bahkan leadership sudah dipupuk sejak zaman SD di mana saya selalu menjadi Ketua Murid, SMP juga, dan SMA di mana saya juga menjadi wakil KM dan memimpin acara makrab di sekolah. Kemampuan presentasi, public speaking, berpikir kritis, sekaligus leadership saya pun sudah cukup terlatih sejak SD karena saya menjadi Dokter Kecil yang sempat mewakili sekolah juga. Tidak lupa saya juga pernah ikut olimpiade MIPA dan juara ketika saya SD.

Cerita one-shot-success yang saya tulis di tulisan SBMPTN itu fana, bohong, dan omong kosong. Jujur saja, basic saya sejak kecil sudah basic akademis. Kalau disangka saya pintar karena perilaku saya berubah saat SMA, itu bullshit. Saat SD saya selalu dapat ranking 1 setiap tahunnya, minimal ranking 3. Saya juga dapat nilai UN tertinggi di SD. Lanjut lagi, saya pun masuk ke SMP terbaik se-Bandung Raya. Ayah dan Ibu tiri saya yang dosen pun membuat lingkungan rumah saya penuh dengan buku, bacaan, dan juga film ilmiah.


Kalau dilihat dari basis saya sejak kecil, apakah dapat dikatakan bahwa pengalaman saya masuk UI merupakan pengalaman yang ‘keren’? Ternyata tidak. Memang cerita saya di SBMPTN terkesan heroik. Terkesan saya berubah di SMA, lalu dengan heroiknya masuk UI, dan pada akhirnya saat kuliah menemukan jati diri, hingga akhirnya menjadi Ketua Angkatan, bahkan Ketua BEM F. Psi. UI di tahun 2018 ini.

Apakah ini pengalaman yang ‘hebat’? Ternyata tidak. Semuanya terbangun dari habit. Buanyak banget dari kesuksesan yang saya alami terkondisikan dari faktor lingkungan. Dan faktor itu terakumulasi sejak kecil!

Menulis? Saya sudah menulis sejak saya SD. Di SD saya menulis diary. Di SMP, saya menulis di Tumblr (silahkan teman-teman lihat tulisan saya yang sangat amburadul di sana). Dan saat SMA, mulailah saya membuat blog. Saat kuliah lah saya pada akhirnya fokus di academic writing dan ketika ikut kompetisi sempat juara.

Apakah rahasianya adalah kerja keras? Tidak, rahasianya adalah faktor lingkungan yang akhirnya membiasakan (re: mengkondisikan) saya melakukan suatu hal secara terus menerus, di antaranya adalah belajar, menulis, dsb. Ya, rahasianya adalah habit (kebiasaan)!

Nih, kalau lo coba lihat juga orang-orang yang keren parah, seperti misalnya Mark Zuckerberg, Elon Musk, Bill Gates, dsb. Mereka pasti punya habit dan kondisi lingkungan tertentu yang sudah mereka lakukan dan alami sejak kecil. Misalnya, Bill Gates itu kutu buku banget. Dia suka banget baca. Kebiasaan/habit itulah yang akhirnya bikin dia jadi pinter banget, sampai akhirnya membuat terobosan yaitu Microsoft. Mark Zuckerberg dan Elon Musk? Dua orang itu sudah belajar coding sejak usianya di bawah 15 tahun.  

Dikutip dari salah satu jawaban di Quora oleh Pushpak Kamboj

“He learned coding from his early childhood days. His father gift him C++ for dummies as a birthday gift and from there he entered into the world of coding”
Saat kecil, Mark Zuckerberg diberikan C++ (salah satu bahasa koding) oleh ayahnya. Dulu memang dia cupu dan gak bisa dibilang jago, tapi tentu kondisi sejak kecil dan kebiasaan koding itulah yang membuat Mark terpikirkan untuk membuat Facebook saat kuliah.

Sedangkan Elon Musk, dia dapat komputer pertamanya saat ia berumur 10 tahun. Dan saat 12 tahun, karena ia sering baca buku (karena di rumahnya tersedia banyak buku), akhirnya ia belajar koding dan akhirnya membuat game dan menjual game tersebut. Jangan lupa kalau Elon Musk juga kutu buku. Semuanya karena ia dikondisikan (re: dibelikan) komputer dan membaca buku programming yang tersedia di rumahnya.

Dari cerita-cerita di atas pun, saya mulai menyadari bahwa sebetulnya hidup itu tidak adil. Ada kesempatan yang hadir untuk beberapa orang, dan sama sekali tidak hadir untuk beberapa orang lainnya. Ada orang yang masa kecilnya dikondisikan untuk menjadi sukses, dan ada yang tidak.

Sorry to say bahwa kemungkinan lo untuk sukses akan sangat amat kecil kalau lo atau orang tua lo tidak mengkondisikan hidup lo dengan baik sejak kecil sampai dengan sekarang.

Tetapi, sukses memang tidak ditentukan hanya oleh masa kecil. Lo bisa mengubah nasib lo sekarang, apalagi ketika lo tahu bahwa kondisi lingkungan dan kebiasaan adalah hal yang akan mengantar lo ke kesuksesan.

Lo bisa berubah! - Filosofi Remaja

Oleh karena itu, kalau lo merasa bahwa lo belum punya basic lingkungan dan habit tertentu yang mengkondisikan lo untuk hebat dalam suatu hal, coba cari dan bentuk habit dan kondisi lingukngan itu dari sekarang! Dan lakukan itu terus menerus.

Ada buku yang judulnya Outliers yang bilang bahwa bahwa kita perlu latihan (re: deliberate practice, latihan yang bener) selama ratusan bahkan ribuan jam untuk jadi hebat dalam suatu bidang tertentu.

Hal ini juga jadi pelajaran buat lo semua. Ketika lo baca tulisan orang yang tahu-tahu tiba-tiba sukses, lo harus kritis. Coba lo lihat backgroundnya, jangan-jangan orang tersebut sukses karena memang dia dikondisikan sejak kecil untuk jadi sukses, bukan karena hal tertentu yang ia lakukan, buku tertentu yang tiba-tiba ia baca, produk tertentu yang ia beli, atau cara tertentu yang ia lakukan. Bukan!

Sejak saat ini, jangan percaya dan tiru lagi cara tertentu orang-orang untuk jadi sukses/hebat dalam suatu hal. Lihatlah bigger picturenya. Apa sih habit yang orang tersebut lakukan? Dan apa kondisi lingkungan yang menyebabkan ia menjadi hebat dalam hal tersebut?

Kalau saya mengutip psikolog terhebat yang pernah ada (menurut saya) dari aliran Behaviorism, yaitu John B. Watson,

“Give me a dozen healthy infants, well-formed, and my own specified world to bring them up in and I’ll guarantee to take any one at random and train him to become any type of specialist I might select—doctor, lawyer, artist, merchant-chief and, yes, even beggar-man and thief, regardless of his talents, penchants, tendencies, abilities, vocations, and race of his ancestors. (1930)”

Quotes dari John B. Watson, Psikolog Behaviorism - Filosofi Remaja

Ya, saya percaya bahwa semua manusia bisa menjadi apa saja, jika dikondisikan dan dibiasakan.

Dan saya pun percaya, bahwa habit dan kondisi lingkungan bukan hanya dapat diubah, dibuat, dan dikondisikan oleh orang lain saja (orang tua, guru, teman, dsb.), tapi juga dapat dibentuk oleh diri kita sendiri.

Bangun habit dan kondisi lingkungan lo dengan baik, dan lo akan menjadi sukses/hebat dari habit yang lo bangun tersebut.

Camkan bahwa untuk menjadi hebat, waktu sehari, sebulan, atau setahun tidaklah cukup. Menjadi hebat tidak sama seperti memasak mie instan. Butuh proses, butuh waktu, butuh habit dan usaha (yang mungkin juga tidak dapat dilihat oleh orang lain)

Sekian dan salam hangat,

Ifandi Khainur Rahim.

Filosofi Remaja,
Mengubah Paradigma Remaja Indonesia Menjadi Lebih Baik

Apakah Gue Sedang Tersesat? - Filosofi Remaja Podcast

Podcast

"Apakah gue sedang tersesat?"
Mungkin itu pertanyaan yang kita semua tanyakan ketika mengetahui bahwa tujuan sekolah, karir, atau hidup kita masih belum secara jelas terlihat oleh mata kita. Itu juga hal yang sebetulnya aku pertanyakan beberapa tahun lalu. Menariknya, hal tersebut muncul lagi dibenakku saat ini. Kalau kamu mengalami hal yang sama, yuk kita simak Filosofi Remaja Podcast yang terbaru tentang bagaimana kita bisa tersesat dalam hidup di sini (https://www.youtube.com/watch?v=YHBCS9wYRjY&index=2&list=PLP4JicSQVHhdGO1SbbXSDHAmi8wGqtW9z).

Simak juga tulisan terdahuluku yang berjudul 'tersesat', langsung saja klik list artikel dan klik linknya di sana! Selamat menikmati.

"Kamu Semester Ini Gak Usah Kuliah Lagi": Merayakan #1000LikesFilosofiRemaja

Curhat

Sangat menarik untuk mengetahui bahwa satu kalimat yang diucapkan oleh seseorang terhadap kita, jika waktu, momen, dan tempatnya tepat, akan dapat mengubah sikap kita terhadap suatu hal, bahkan secara radikal. Bisa jadi itu sudah terjadi pada anda. Mungkin terjadi pada anda ketika calon pacar anda mencoba ‘nembak’ anda sebagai pacar. Mungkin juga terjadi ketika orang tua anda mengatakan bahwa anda harus masuk jurusan kuliah tertentu, karena jurusan kuliah yang anda inginkan tidak menjamin anda sukses. Well, momen apa pun itu dan siapa pun orang yang mengatakan hal tersebut yang mampu mengubah sikap anda, saya yakin bahwa kita semua pernah mengalaminya. Kali ini, waktunya saya untuk menceritakan momen yang saya alami.

Singkat kata, semuanya berawal dari sebuah sore yang sunyi di awal bulan Oktober. Dua hari yang lalu, saya baru saja pulang dari tanah Kalimantan di dekat sungai Mahakam. Saya harus ke sana karena ada kewajiban terhadap salah satu organisasi nasional hebat tempat saya berkontribusi, yaitu ILMPI. Sebagai Pengurus Harian Nasional, tentu saya harus datang ke Rapat Koordinasi Nasional, tidak peduli mau sejauh apa pun itu. Untung saja pengurus BEM sangat suportif dalam mendukung saya dan ILMPI (terima kasih Diana, Salim, Ijah, Mia, dkk ;) ), sehingga masalah dana pun bisa ter-cover. Pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan memang merupakan pengalaman yang sangat mistik, entah mengapa sungai Mahakam setiap teringat di otak saya sampai sekarang tetap membuat saya merinding akan kehebatan dan kebesarannya.

Sayangnya, kondisi saya saat itu memang tidak sedang ada dalam kondisi yang baik, khususnya di bagian finansial. Saya harus bertarung dengan kondisi ayah saya yang stroke dan lumpuh sampai sekarang, terhitung sejak akhir bulan April 2017 lalu. Alhasil, segala masalah mulai muncul. Cicilan dari Ayah saya membludak. Mulai dari cicilan rumah, motor, biaya hidup, sampai ke biaya kuliah yang sampai sekarang belum saya bayar. Saya yang biasa hidup nyaman akhirnya merasakan sendiri dipukul oleh kehidupan.


Sayangnya, masalahnya bukan hanya itu. Ya, masalahnya kehidupan saya di pertengahan 2017 saat ini memang sedang hectic-hecticnya. Masalah akademis, tanggung jawab di tiga lembaga dengan jabatan tinggi yang harus saya pegang sekaligus (Ketua angkatan, BEM F. Psi UI, dan ILMPI), dan juga masalah finansial. Belum lagi di setiap lembaganya terdapat permasalahan internal maupun eksternal. Belum lagi tugas yang perlu uang administrasi seperti untuk print dsb. Belum lagi ini. Belum lagi itu.

Alhasil, sebetulnya sore hari itu saya betul-betul ingin istirahat. Bukan hanya karena capek secara fisik, namun juga mental. Seorang Ifandi yang mungkin biasanya tahan dengan segala tekanan saat itu setengah sadar, di satu sisi ia tahu bahwa ia kuat, namun di satu sisi ia sadar bahwa ia adalah manusia, yang bisa juga untuk merasa cukup. Ya, saya merasa sudah cukup dengan semua masalah, saat itu saya bisa tahu bahwa secara psikologis saya mencapai absolute threshold untuk burnout. Namun sore itu saya sadar bahwa malamnya saya memang harus menghadiri kewajiban lain, yakni rapat Tim Inti dan Badan Pengurus Harian (RATIBPH). Tentu saya belum bisa istirahat. Belum, Van.

Malamnya, saya hadir di RATIBPH, dan menariknya seiring dengan berjalannya rapat, saya mendengar ada kabar buruk dari Dept. Adkesma (Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa). Bahwa status saya sebagai mahasiswa akan dikosongkan, dan saya tidak bisa kuliah lagi semester tersebut. Dengan naifnya, saya saat itu tidak percaya dengan perkataan tersebut. Saya percaya bahwa UI tidak akan mengeluarkan mahasiswanya yang tidak mampu bayar biaya kuliah. Apalagi saya sudah mengurus segala administrasi untuk keringanan dari bulan Mei. Saya pikir, sungguh keterlaluan apabila hal ini terjadi pada saya.

Namun seperti yang sudah disangka-sangka, besoknya saya dipanggil ke ruangan salah satu pejabat fakultas. Inilah momen itu. Waktu, tempat, dan momen yang pas untuk mengatakan sesuatu yang mungkin bisa mengubah sikap saya secara radikal. Dan memang betul, itu mengubah sikap saya.

“Ifandi, saya ada kabar buruk. IRS kamu tidak bisa diurus lagi oleh Fakultas. Jadi, kamu gak usah masuk kuliah lagi di semester ini. Saya juga ada tawaran untuk kamu kerja digitalisasi data alumni, untuk mengisi kekosongan kuliah kamu di semester ini.”
Saya rasa tidak perlu saya ceritakan detil bagaimana saya menjawab tawaran dan pemberitahuan tersebut. Sebagai Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis, tentu saya harus tetap mempertahankan bargaining position, saya tidak bisa marah, namun tidak bisa juga menyerah begitu saja. Saat ini saya adalah akademisi, DAN HARUS TETAP MENJADI AKADEMISI.

Kali ini bukan saatnya untuk menyerah. Saya sadar bahwa ada yang salah dengan pemberitahuan dan tawaran tersebut. Bayangkan saja, 3 hari lagi saya UTS, saya sudah mengurus administrasi sejak Mei, dan pemberitahuan inilah yang saya dapatkan. Saya bisa telat satu tahun jika kondisi ini dibiarkan begitu saja. Saya pun memberikan penjelasan kepada si pejabat fakultas, sekaligus ultimatum, bahwa saya tidak akan diam. Tentu saya akan menggunakan power saya sebagai Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis dan Pengurus Harian Nasional ILMPI jika masalah ini tidak bisa selesai. Setelah diberi penjelasan, Alhamdulillah, ternyata kondisi saya masih bisa diperjuangkan.

Hal yang menarik adalah sekarang, kondisi saya mungkin sudah agak mendingan. Masalah finansial sedikit demi sedikit mulai bisa diselesaikan. Organisasi masih bisa saya jalani. Akademis? Bukan masalah selama IP saya tidak ada di bawah 3.00. Banyak pula teman yang selalu mendukung dan menawarkan bantuan.

Yang menjadi masalah sekarang mungkin adalah terkait dengan sikap saya terhadap kuliah dan hidup yang cukup berubah secara drastis. Satu kalimat utama dalam narasi pemberitahuan di atas terus menghantui saya. Saya jadi terpikir banyak hal yang ingin saya lakukan mulai sekarang dan nanti. Dan entah kenapa, satu hal yang saya rasakan adalah ketakutan. Ketakutan bahwa pilihan hidup yang saya pilih saat ini merupakan pilihan hidup yang... tidak tepat.

Akan tetapi, dengan segala drama dalam pikiran dan masalah di dunia, hal yang mungkin perlu sekali untuk saya syukuri tentu adalah fakta bahwa Filosofi Remaja, likers-nya selalu meningkat setiap minggu. Setidaknya saya tahu bahwa kawan-kawan merasa terbantu dengan adanya blog ini. Dengan post ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sangat senang dan bersyukur masih bisa membantu teman-teman semua, baik itu sesimpel masalah bagaimana cara belajar untuk SBMPTN atau sekompleks masalah paradigma tentang hidup.

Tempo hari saya mendapat cukup banyak email dan chat personal dari kawan-kawan pembaca yang mengalami masalah hidup. Lagi-lagi, saya mohon maaf karena hanya bisa read doang. Percayalah bahwa saya sangat ingin sekali membalas pesan kawan-kawan semua. Sayangnya, kondisi saya sekarang ini tidak memungkinkan untuk membalas semua pesan yang masuk.

Baiklah, mungkin cukup segini curhatnya, semoga Tuhan membersamai pergerakan kita semua.

Salam hangat dari saya,

Ifandi Khainur Rahim, (masih) mencoba mengubah paradigma.
Post ini dibuat untuk merayakan #1000LikesFilosofiRemaja