Menulis Untuk Keabadian

2:10 PM 0 Comments

Menulis adalah bekerja untuk keabadian


Melihat perjalanan hidup 17 tahun ke belakang merupakan hal yang asik. Apalagi jika melihat bahwa curhatan, esai, dan dokumentasi lain yang berbentuk tulisan anda masih anda simpan dengan baik. Sebab anda akan dapat melihat perkembangan skill anda dengan sangat jelas. Contohnya saya, ketika SD, tulisan saya hanya sebatas menuliskan kembali cheat code game GTA San Andreas, ketika SMP, tulisan saya didominasi oleh curhatan, saat SMA, mulailah sedikit demi sedikit saya menulis tentang kritikan-kritikan saya terhadap dunia, saat kuliah? Anda dapat melihat saya rutin menulis dengan satu tema yang sama: “Self Development”

 Saya tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi anak cucu saya ketika nanti mereka melihat bahwa saya adalah penulis. Mungkin senang, sedih, atau jijik? Namun yang jelas, mereka berinteraksi dengan tulisan saya. Sehingga mereka punya koneksi dengan saya, dan jelaslah menurut saya itu adalah sebuah hal yang penting, daripada tidak bereaksi sama sekali.

Saya yakin anda semua punya seorang kakek atau nenek, jika tidak, mana mungkin anda akan berada di sini sekarang? Namun, saya ingin menanyakan sesuatu pada anda. Seberapa jauh anda mengenal kakek / nenek anda?

Well, beruntung jika kakek / nenek anda masih hidup dan sudah menceritakan banyak kisahnya semasa kecil kepada anda. Namun jika mereka sudah tidak ada ketika anda masih belum lahir atau balita? Sekali lagi, seberapa jauh anda mengenal kakek / nenek anda?
           
Sedihnya hidup saya, saya lebih mengenal Aristotle daripada nenek saya, saya lebih mengenal tentang Dilan daripada kakek saya, saya lebih mengenal Hitler dan Julius Caesar daripada kakek dan nenek saya sendiri, meskipun mereka hidup puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Mengapa? Sebab mereka menulis, mereka meninggalkan sesuatu untuk dikaji, untuk dipelajari, untuk dinikmati, tidak peduli sejahat / sebaik apapun kehidupan mereka, setidaknya, mereka dikenang dan diketahui, tidak seperti kakek / nenek saya. Jika kakek / nenek saya menulis dan menyimpan tulisannya, mungkin saya akan setidaknya mengenal mereka, namun nyatanya tidak.

Maka, dari sedikit alasan yang telah saya jabarkan di atas, tidak ada salahnya kok untuk menulis sedikit curhatan di blog anda, apalagi jika curhatan anda mampu menginspirasi orang. Jangan beralasan bahwa tulisan anda tidak bagus. Menulis itu keahlian, bisa dipelajari. Toh setidaknya meskipun tulisan anda tidak terlalu bagus, anda akan dikenali oleh anak cucu anda ketika mereka mencari nama anda di google. Atau mungkin nama anda akan dicari oleh perekrut pekerja anda saat anda melamar pekerjaan. Siapa yang tahu?

Akhir kata, saya ingin mengutip kata-kata mainstream dari seorang penulis yang tulisannya disukai oleh banyak orang:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
– Pramoedya Ananta Toer

Saya mau hidup 1000 tahun lagi.

Pertanyaannya sekarang adalah untuk anda yang belum menulis,


Apakah anda mau dilupakan oleh cucunya seperti kakek saya?

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

Show Comments: OR

0 comments: