Attribution bias: Ilusi yang sering menjebak otak kita

11:15 PM 0 Comments


*Artikel ini telah dipost dengan judul yang berbeda sebagai Creative Article pertama di http://bempsikologi.ui.ac.id/ [Creative Article: Program kerja Biro Media BEM Psikologi UI 2016]*

Apa sih yang membuat UI jadi universitas terkenal di Indonesia? Di antaranya pasti karena mahasiswanya pintar dan berprestasi. Namun, apakah kuliah di UI membuat mahasiswanya menjadi pintar dan berprestasi? Cobalah tanyakan pertanyaan itu kepada teman, kerabat, atau keluarga anda. Jika jawabannya “tidak”, bagus! Namun, jika jawabannya adalah “iya”, maka mungkin orang yang anda tanyakan sedang mengalami attribution bias.

Dalam perspektif Psikologi Sosial, atribusi adalah proses ketika seseorang menjelaskan penyebab sebuah kejadian atau perilaku (Kassin, Fein,& Markus, 2010). Nah, cara manusia menjelaskan penyebab kejadian atau perilaku tersebut tidak terlepas oleh bias. Bias yang saya sebutkan dalam contoh di atas bernama swimmer’s body illusion (Dobelli, 2013). Jika mengacu pada contoh di atas, yaitu pandangan bahwa kuliah di UI membuat mahasiswa menjadi pintar dan berprestasi. Padahal, bisa jadi bukan kuliah di UI yang membuat mahasiswa UI pintar, mungkin saja mahasiswa UI sudah pintar dari awal sebelum lolos seleksi universitas, atau media hanya mengekspos orang-orang yang pintarnya saja, sehingga orang awam beranggapan seperti itu, tidak menutup kemungkinan juga untuk faktor-faktor yang lain.

Selain itu, attribution bias lain yang sering terjadi adalah fundamental attribution error, yaitu kecenderungan kita untuk meng-overestimate faktor internal dan mengurangi faktor lingkungan atau pengaruh orang lain sebagai sebab dari perilaku (Kassin, F., Fein, S., Markus, H. R., 2013). Intinya, ketika seseorang melakukan kesalahan, kita cenderung akan lebih menyalahkan orang tersebut daripada situasi atau orang lain yang memengaruhi perilakunya. Kadang-kadang, fenomena ini juga disebut sebagai “blaming the victim”.

Contohnya seperti ini. Anggaplah kamu adalah mahasiswa baru F. Psikologi UI yang sedang menjalani rangkaian KAMABA. Lalu kamu dengan sengaja mencoba untuk menyapa teman seangkatan yang baru kamu lihat kemarin, namun belum kamu kenal. Kamu menyapa hanya untuk sekedar mencari kenalan. Namun ternyata eh ternyata, setelah kamu sapa, orang tersebut malah cemberut dan buang muka. Nah, menurut fundamental attribution bias, biasanya kamu cenderung akan kesal pada orang tersebut dan menganggap bahwa orang tersebut “jutek” parah. Padahal belum tentu, bisa jadi teman seangkatan kamu itu sedang bad mood, terburu-buru, atau memang sedang melamun sehingga kamu gak di-notice.

Well, sekarang kamu sudah tahu kan sedikit tentang attribution bias? Lalu, manfaatnya apa? Manfaatnya adalah sekarang kamu bisa lebih kritis nih dalam menilai perilaku seseorang, gimana caranya supaya gak salah menyimpulkan, dan juga menilai bagaimana cara seseorang menilai perilaku orang lain (ow). Kalau kamu tertarik untuk tahu lebih lanjut, nih ada beberapa buku yang ngebahas tentang logical fallacy, attribution bias, dan semacamnya... 

1. The Art of Thinking Clearly – Rolf Dobelli
2. Thinking Fast and Slow – Daniel Kahneman
3. Predictably Irrational – Dan Ariely

Okey, akhir kata, izinkan saya menutup artikel ini dengan 2 quotes andalan dari psikolog dan pemikir hebat
“The important point here is recognizing that all of us are flawed. The idea is to think ahead to what those failure might be, to put systems in place that will help minimize the damage, or to prevent the bad things happening in the first place" – (Levitin, 2015)

“As paradoxical as it sounds: The best way to shield yourself from nasty surprises is to anticipate them.” – (Dobelli, 2013)

REFERENSI

Kassin, F., Fein, S., & Markus, H. R. (2010). Social psychology (Eighth international ed.).
Wadsworth: Cengage Learning

Kassin, F., Fein, S., & Markus, H. R. (2013). Social psychology (Ninth ed.). Wadsworth:
Cengage Learning

Dobelli, R. (2013). The art of thinking clearly: Better thinking, better decision. UK: Sceptre


Levitin, D. (2015). How to staf calm when you knot you’ll be stressed. Dikutip tanggal 07

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

Show Comments: OR

0 comments: