Ospek Secara Umum di Indonesia, Negatif atau Positif?

6:03 PM 0 Comments


Di tahun 2016 ini, saya sangat senang karena diterima menjadi salah satu anggota tim penulis di “Bunch!”. Bunch! adalah majalah yang diterbitkan oleh BEM Psikologi UI setiap enam bulan sekali. Tema dari majalah tersebut kebetulan di edisi yang saya kerjakan adalah “mental health” atau kesehatan mental. Tentu kesehatan mental erat kaitannya dengan stress. Akhirnya saya sebagai penulis ingin mencoba membawa masalah stress ini ke dalam artikel yang saya buat.

Lalu, tiba-tiba saya terpikirkan sesuatu. Kenapa tidak bawa saja isu yang umum terjadi dengan kehidupan pelajar? Yaitu isu kegiatan orientasi siswa dan mahasiswa (atau lebih umum dikenal dengan OSPEK) yang memang di Indonesia banyak dilakukan dengan kegiatan yang penuh tekanan. Ya, seperti ketika harus datang sangat pagi, tugas yang bejibun, dimarahi oleh kakak tingkat, memakai atribut yang mungkin bisa dibilang tidak lazim untuk dipakai sehari-hari, serta berbaris sambil berpanas-panasan. Saya berpikir, apakah kegiatan seperti itu dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental kita?

Mungkin sebelumnya kita perlu tahu terlebih dahulu tentang pengertian kesehatan mental. Pengertian sederhananya saya kutip dari alodokter.com, kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar, serta dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi stress.

Jika begitu pengertiannya, lalu apakah orientasi yang penuh tekanan itu dapat mengganggu kesehatan mental seseorang? Menurut anda ya atau tidak?

Well.... Menurut saya, bisa iya, bisa juga tidak. Meskipun saya tidak menyangkal bahwa orientasi di Indonesia secara umum memang menyebabkan stress, namun mengutip dari AM-HDC (OA Line), stress sebetulnya ada dua jenis. Pertama adalah eustress, yaitu stress yang baik dan jumlahnya cukup, yang bisa membuat kita tertantang dan membantu meningkatkan motivasi kita. Sedangkan stress yang kedua adalah distress, yaitu jenis stress yang membuat kita merasa putus asa, frustrasi, dan tidak tahu keputusan apa yang harus diambil untuk menyelesaikan stress tersebut.

Kedua jenis stress ini bisa berasal dari hal yang sama. Lalu apa pembedanya? Nah, yang menjadi pembeda dari kedua stress barusan adalah diri kita sendiri. Mengutip kembali dari AM-HDC, setiap individu punya toleransi stress yang berbeda. Jika dikaitkan dengan ospek, maka bisa dibilang bahwa ospek di satu sisi bisa jadi hal yang baik, yang meningkatkan motivasi dan membuat siswa / mahasiswa “tertantang”. Namun, di sisi lain bisa menjadi malapetaka yang membuat putus asa dan frustrasi.

Ya, “individual differences” pada peserta ospek lagi-lagi memunculkan pertanyaan di benak saya.

Apakah ospek yang umum terjadi di Indonesia ini lebih banyak efek positifnya? Atau lebih banyak efek negatifnya? Peserta ospek kan beda-beda, lalu bagaimana cara menentukan ‘toleransi’ stress yang ‘standar’ bagi semua individu?

Mungkin sekarang perlu ada revolusi bagi masa orientasi / ospek di Indonesia yang masih menjadi kontroversi ini. Saya sering kali mendengar ada dua belah pihak. Ada pihak yang setuju menggunakan tekanan dengan dimunculkannya komisi disiplin. Ada juga pihak yang tidak setuju dan ingin seperti di negara tetangga ‘singa duduk’ sana yang mungkin tidak menggunakan tekanan saat ospek.

Semua pendapat menurut saya tidak ada yang salah. Tapi pendapat saya, sebetulnya kita membutuhkan stress dengan porsi yang seimbang. Tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit stress. Coba saja bayangkan hidup tanpa stress, tanpa deadline, dan tanpa ancaman sedikit pun. Serukah hidup seperti itu? Kita semua sebagai bangsa Indonesia mungkin bisa mulai merefleksi sistem ospek yang kita pakai kali ya (kalau ternyata banyak negatifnya).

Di akhir tulisan ini, izinkanlah saya mengutip lirik dari lagu dance favorit saya.

“Give me release, let the waves of time and space surround me. Cause I need a room to breathe, let me float back to the place you found me. I’ll be okay” – Porter Robinson -Language


Hidup juga butuh stress. Maka, lepaskanlah dirimu di tengah kekacauan ini, di tempat dan waktu kau hidup sekarang. Ya, nikmatilah hidup yang penuh dengan stress dan masalah ini. You’ll be okay!

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

Show Comments: OR

0 comments: