Keep your ‘goals’ to yourself

10:07 PM 0 Comments

24 Oktober 2016


Terinspirasi oleh Sasa.

Tulisan ini dibuat beberapa hari sebelum alm. Sasa (mentor Zenius dan juga Ketua KAMABA Fakultas Psikologi UI 2015) meninggal.

Btw, semoga lo tenang di ‘sana’ yak teman pastafarian seperjuangan!

Tulisan ini akan saya mulai dengan satu buah pertanyaan.

“Pernahkah anda melihat teman, saudara, atau keluarga anda mengumbar mimpi, cita-cita, atau tujuan jangka panjang mereka di media sosial?”


Jika iya, selamat! Berarti anda bernasib sama dengan saya. Saya sarankan untuk melanjutkan membaca tulisan ini sampai habis.

Ya, tempo hari entah kenapa timeline media sosial saya jadi sering sekali terlihat orang-orang mengobral dan mengumbar mimpinya. Banyak orang yang menulis mimpi dan cita-cita mereka, lalu mereka hias dan desain dengan baik (dalam bentuk video atau gambar), dan akhirnya mereka share ke media sosial. Mimpi tersebut ditulis dan dishare dengan harapan bahwa setelah dishare, mimpi, cita-cita, atau tujuan yang mereka tulis tersebut akan terwujud.

Reaksi pertama saya setelah melihat fenomena tersebut adalah mengernyitkan dahi saya. Saya hanya punya dua pertanyaan saat itu:
Pertama:
“Kenapa sih mereka bisa berpikir seperti itu (bahwa menulis dan mempublikasikan mimpi di media sosial akan meningkatkan chance mimpi tersebut terwujud)?”

Kedua:
“Apakah betul efek menulis dan mempublikasikan mimpi di sosmed memang manjur?”

Langsung saja ke jawaban pertanyaan pertama. Menurut saya, asumsi tersebut muncul karena dua sebab utama:

  1. Anggapan bahwa saat menuliskan mimpi, cita-cita, atau tujuan jangka panjang, artinya kita sudah berjanji pada semua orang bahwa kita akan mengejar mimpi tersebut. Sehingga secara sadar ataupun tidak sadar, performa diri kita sehari-hari akan mengarah pada mimpi tersebut dan pada akhirnya mimpi kita akan terwujud
  1. Anggapan bahwa menuliskan mimpi secara konkret akan meningkatkan performa kita dalam mengejar mimpi tersebut.

Oke, pertanyaan pertama terjawab, pertanyaan selanjutnya adalah:

“Apakah betul efek menulis dan mempublikasikan mimpi di sosmed memang manjur?”

Pertama-tama, perlu saya klarifikasi bahwa menuliskan mimpi, cita-cita, atau tujuan secara konkret, apalagi dengan metode goal setting yang keren (contohnya seperti S.M.A.R.T atau G.R.O.W, silahkan anda cari jika penasaran) memang akan meningkatkan performa, dan ini telah terbukti oleh banyak penelitian tentang goal setting.

Namun, apakah mempublikasikan mimpi tersebut ke banyak orang akan menghasilkan efek yang sama (yaitu, meningkatkan performa)? Well, memang sudah sangat jelas sekali bahwa ‘menulis’ dan ‘mempublikasikan’ adalah dua kata kerja yang berbeda. Sehingga masih belum bisa saya identifikasi efeknya.

Lalu dari segala kebingungan dan pertanyaan terkait hal tersebut, tiba-tiba munculah ‘wahyu’ dari google berupa sebuah penelitian yang membantah adanya efek mempublikasikan mimpi akan meningkatkan performa. Penelitian tersebut adalah penelitian milik Derek Siver. Berikut prosedur penelitiannya yang saya kutip dari tulisan Sasa di Blog Zenius.

“Jadi, ada sebuah penelitian di mana 163 orang diminta untuk menjalani tes yang terpisah. Setiap orang diminta untuk menuliskan tujuan pribadi mereka di sebuah kertas. Setelah itu, peneliti meminta sebagian dari orang-orang tersebut untuk mengutarakan tujuan mereka (sampel A), dan sebagian lagi gak ngasih tau tujuan mereka (sampel B). Habis itu, mereka dikasi waktu selama 45 menit untuk ngerjain pekerjaan yang relevan sama tujuan pribadi mereka (misalnya kalo tujuan mereka mau menurunkan berat badan, mereka disuruh olahraga naik sepeda statis).

Dalam proses itu, mereka dikasi tau kalau misalnya mereka bisa berenti kapanpun mereka mau. Orang-orang yang ngasi tau tujuan pribadi mereka rata-rata berhenti di menit ke-33, sementara orang-orang yang ga ngasih tau tujuan mereka, ngehabisin  rata-rata 45 menit!
Menariknya lagi, ketika sampel A ditanya gimana rasanya setelah melakukan kegiatan itu, mereka bilang kalau mereka merasa sudah cukup dan sudah deket dalam mencapai tujuan mereka. Sebaliknya, ketika sampel B ditanya setelah kegiatannya selesai, mereka bilang kalau mereka ngerasa bahwa mereka masih jauuuh banget dari tujuan mereka.
Kenapa bisa gitu? Ternyata orang-orang yang ngasih tau tujuan mereka ke orang lain itu ngerasa mendapatkan pengakuan sosial dari lingkungan mereka. Penelitian-penelitian psikologis terkait hal ini ngebuktiin bahwa semakin lo ngasi tau tujuan-tujuan lo kepada orang lain, semakin kecil juga kegigihan lo untuk mewujudkan hal tersebut karena lo merasa sudah mendapatkan apa yang lo inginkan (which is pengakuan sosial). dalam proses usaha yang sebetulnya belum seberapa.” (Wibowo, 2015)

Setelah tahu penelitian ini, tentu kesimpulan akhir pertanyaan kedua yang saya ajukan adalah bahwa justru menceritakan mimpi kita ke orang lain adalah hal buruk. Sehingga, dari kesimpulan tersebut, konsekuensinya tentu adalah untuk diam. Sayangnya, justru setelah menemukan kesimpulan tersebut, pertanyaan di kepala saya malah jadi semakin bertambah.

“Lho, kalau begitu, mengapa banyak penelitian yang mengatakan sharing goals itu efeknya manjur? Mengapa ada saja segelintir orang yang tetap sukses meskipun mereka memberi tahu goals mereka di media sosial? Apakah mereka outliers (data ekstrim/segelintir pengecualian)?”

Berpikir keras

Setelah beberapa klik mencari di google, saya akhirnya menemukan beberapa limitasi simpulan di atas:

Ternyata, kita boleh saja mempublikasikan goals kita.

Akan tetapi, kita harus akuntabel/bertanggung jawab atas goals tersebut.

Kata kunci = Akuntabilitas

Tentu mengatakan mimpi besar seperti “Aku mau jadi presiden” atau “Aku mau menyembuhkan kanker” bukanlah goals yang akuntabel. Ya, contoh goals lainnya yang tidak akuntabel adalah seperti mimpi, cita-cita, atau tujuan hidup jangka panjang. Mengapa tidak akuntabel? Sebab goals tersebut terlalu jauh dan tidak bisa kita kontrol.

Goals macam inilah yang harus kita hindari untuk share di media sosial. Goals yang boleh kita share di media sosial tentunya hanyalah goals yang smart! Ya, literally S.M.A.R.T! Spesifik, Measurable, Attainable, Realistic, dan Time Bound. Tentunya mimpi besar atau tujuan jangka panjang tidak termasuk dalam kategori goals yang smart.

Sehingga kesimpulan akhir untuk fenomena yang saya bahas di artikel ini adalah:

  1. Shut up and keep your DREAMS to yourself
  2. Secara berkala, buatlah goal yang S.M.A.R.T untuk mewujudkan ‘DREAM’ tersebut. Dan goal smart tersebut tentunya bisa anda share di media sosial jika anda mau

Cheers!

Referensi:


1. Morisano, D., Hirsh, J. B., Peterson, J. B., Pihl, R. O., & Shore, B. M. (2010). Setting, elaborating, and reflecting on personal goals improves academic performance. Journal of Applied Psychology, 95(2), 255.)

2. Blog Zenius SMART-Sasa.

3. Ted Talk: Derek Siver

4. http://www.colipera.com/csi-ted-talks-what-derek-sivers-was-really-saying/

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

Show Comments: OR

0 comments: